Syarat Iran untuk negosiasi AS-Iran adalah penghentian perang yang dilancarkan oleh entitas Yahudi terhadap Lebanon.
**** **** ****
Perjanjian Amerika-Iran mencakup syarat-syarat bagi kedua belah pihak, dan di antara syarat Iran adalah “gencatan senjata di Lebanon”. Berita ini merangkum tragedi sebuah negara yang nasibnya berada di tangan orang lain, seperti seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk bertindak dan berada di bawah perwalian karena ketidakdewasaannya, dan yang nasibnya ditentukan di ibu kota negara lain, sementara rakyatnya membayar harga tertinggi dengan darah dan infrastruktur mereka!
Dalam empat bulan yang panjang, Lebanon berubah menjadi arena bermain bagi entitas kriminal Yahudi; lebih dari 4.000 tewas, 12.000 terluka, puluhan ribu bangunan hancur dan rata dengan tanah, ratusan ribu mengungsi, serta sebagian besar wilayah selatan diduduki. Menghadapi bencana ini, pemerintah Lebanon berdiri tak berdaya, lumpuh, tanpa jalan keluar selain memohon negosiasi langsung dengan entitas kriminal Yahudi, di bawah naungan Amerika Serikat, yang mendukung entitas ini!
Kekurangan struktural dan negara yang lahir tanpa fondasi. Pemandangan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil yang tak terhindarkan dari kenyataan pahit yang mengungkapkan kerapuhan negara Lebanon. Jika Lebanon adalah negara sejati dalam arti politik, militer, dan kedaulatan, maka ia akan memiliki kekuatan untuk mencegah, dan akan membela diri dengan tentara dan lembaganya terhadap kesombongan orang Yahudi, dan tidak akan membiarkan tanahnya menjadi kotak pos untuk menyelesaikan perselisihan regional.
Namun, kebenaran sejarah yang terlihat dengan jelas saat ini adalah bahwa Lebanon, sejak awal berdirinya sebagai sebuah entitas, terlahir sebagai negara hibrida yang cacat, kekurangan unsur-unsur penting untuk kelangsungan hidup yang bermartabat dan keberlanjutan secara alami. Ia adalah entitas yang dirancang untuk menjadi arena pembagian kekuasaan sektarian, tidak mampu mengelola urusan internalnya, gagal merawat rakyatnya dan melindungi perbatasannya, serta tunduk dalam kebijakan luar negerinya kepada kekuatan regional dan internasional yang memperlakukan gencatan senjata sebagai alat tawar-menawar guna memperkuat posisi negosiasi mereka, bukan sebagai ekspresi persatuan. Sebaliknya, gencatan senjata tersebut mewakili pengaruh yang dibangun di atas kepentingan sektarian dan keagamaan, yang merupakan hal mendasar bagi keberadaan entitas Lebanon itu sendiri!
Satu-satunya jalan keluar terletak pada kembali ke keadaan semula; karena terus bergantung pada struktur entitas saat ini hanya akan melanggengkan tragedi dan mengemis solusi. Solusi yang benar dan meyakinkan untuk mengakhiri siklus ini bukanlah tambal sulam, melainkan pengakuan bahwa wilayah ini kekurangan unsur-unsur penting untuk bertahan hidup terpisah dari lingkungannya di dalam perbatasan yang dibuat oleh kolonialisme Inggris dan Prancis. Oleh karena itu, kekuatan Lebanon dan kemampuannya untuk hidup dengan bermartabat dan aman tidak terletak pada isolasi buatan, tetapi pada persatuannya dengan negara-negara tetangga dan kembalinya ke akar alami, geografis, dan historisnya.
Hanya integrasi alamiah dengan lingkungan Islam dan kedalaman geografisnya yang dapat membangun negara yang benar-benar kuat, yang memiliki fondasi ekonomi yang kokoh, tentara yang mampu mencegah ancaman, dan pengambilan keputusan yang berdaulat dan independen. Adapun tetap berada dalam posisi negara yang terpinggirkan, menggadaikan perdamaian dan perang kepada kekuatan asing, maka hal ini hanya akan menghasilkan kehancuran lebih lanjut dan memberikan peluang bagi aktor lain untuk membeli dan menjual nama Lebanon di pasar internasional. [] Syeikh Dr. Muhammad Ibrahim – Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir di Wilayah Lebanon
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 25/6/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat