Berkas Epstein dan Kejatuhan Peradaban Barat
Kongres AS yang memaksa pemerintah AS dan Departemen Kehakiman untuk merilis beberapa berkas Epstein yang dianggap sebagai skandal peradaban terbesar yang disaksikan oleh negara-negara Barat pada abad ke-21.
Ini bukan sekadar skandal politik pribadi yang melibatkan presiden, pemimpin, atau pejabat seperti skandal Watergate atau Iran-Contra, tetapi skandal publik; sosial, politik, moral, dan etika.
Barat yang selama ini—dengan topeng kebohongan—selalu mengklaim membela hak asasi manusia, hak perempuan, dan hak anak, telah terbongkar kepalsuannya oleh skandal besar ini yang mengungkap sifat pandangan barbar, rendah diri, dan tidak manusiawi mereka terhadap kemanusiaan.
Barat memandang manusia hanya sebagai zat tak bernyawa, tanpa emosi, dan tidak bermoral, menjadikan mereka subjek eksperimen hewan untuk melayani sekelompok orang menyimpang, cabul, dan sadis. Barat memandang perempuan hanya sebagai komoditas murah yang dibeli dan dijual di pasar budak gelap dan rumah bordil yang penuh dengan kegilaan seksual. Barat memandang anak kecil hanya sebagai sumber kesenangan dengan menyiksanya secara brutal dan kejam untuk mengekstrak adrenokrom darinya, yang menurut mereka memberikan energi awet muda dan ramuan kehidupan abadi yang membawa mereka lebih dekat kepada keabadian duniawi.
Skandal publik ini melibatkan presiden seperti Trump dan Clinton, pangeran dan putri dari Inggris, Swedia, dan Norwegia, miliarder seperti Bill Gates dan Elon Musk, ilmuwan seperti Stephen Hawking, serta politisi, aktor, penyanyi, ilmuwan, pengusaha, dan selebriti dari seluruh dunia.
Mereka adalah kaum elit Barat yang telah disesatkan oleh keinginan dan khayalan mereka, sehingga mereka berlari ke pulau iblis Jeffrey Epstein, menjual kemanusiaan dan kodrat mereka, lalu membeli dengan itu apa yang mereka anggap sebagai kesejahteraan dan kebahagiaan mereka, sehingga mereka melakukan tindakan amoral dan dosa serta melakukan kejahatan dan pelanggaran.
Skandal ini tidak hanya terbatas pada pelanggaran kehormatan, penjualan gadis di bawah umur, penyiksaan dan pembunuhan anak-anak, serta pembunuhan kepolosan mereka, tetapi juga mencakup kejatuhan keadilan dan peradilan, kerusakan pengadilan dan hukum, serta upaya menutupi kejahatan tersebut dengan penipuan dan kesepakatan hukum yang mencurigakan selama seperempat abad atau lebih.
Negara Amerika, dengan semua lembaga dan partainya, mencoba—dan masih mencoba—untuk menyembunyikan fakta-fakta yang jelas tentang kejahatan keji tersebut, dan untuk membebaskan mereka yang terlibat di dalamnya dengan segala cara. Skandal ini dan kejahatan yang diakibatkannya terungkap pada tahun 2005. Namun sejak itu, skandal ditutupi, yang dicurigai ada kesepakatan hukum dengan Jeffrey Epstein hingga akhirnya meledak pada tahun 2019, ketika Epstein ditangkap dan kemudian dibunuh di dalam penjara, untuk menyingkirkan dan menutup skandal tersebut secara permanen dengan kematiannya. Akan tetapi, skandal itu meledak lagi karena dampaknya yang beragam. Di bawah tekanan publik, pemerintah terpaksa menerbitkan sebagian dari enam juta dokumennya. Sejauh ini, tiga juta dokumen telah dipublikasikan di media, dan seperempat juta dari tiga juta dokumen yang diizinkan untuk dirilis telah dicegah dari publikasi dengan dalih dan alasan keamanan yang lemah untuk menutupi pelaku kejahatan sebenarnya.
Terlepas dari besarnya skandal ini, tidak ada terdakwa, karena mereka yang terlibat masih memiliki kekuasaan luas yang memungkinkan mereka untuk mengabaikan hukum, mencegah publikasi dokumen yang memberatkan mereka, dan menerbitkan sejumlah besar dokumen untuk membingungkan orang dan mengalihkan perhatian mereka dari fakta. Ini sebenarnya adalah skandal kedua yang menegaskan kerusakan pengadilan, lembaga peradilan, media, dan pemerintah di Amerika, serta mengungkap kebohongan dari apa yang disebut independensi peradilan dan pemisahan kekuasaan.
Trump mengancam para politisi, pengadilan, dan media dengan mengungkap skandal lama dan membongkar pahlawan mereka jika ia dikecam bersalah karena berkas Epstein. Ia mengatakan siap mengungkap rahasia pembunuhan Kennedy dan Martin Luther King Jr. serta peristiwa 11 September jika ia menghadapi persidangan apapun, artinya ia berkata, “aku hancur musuhku juga hancur”, sehingga mereka takut dan bersekongkol dengannya.
Dengan demikian, tampak jelas bahwa meskipun jutaan dokumen telah dipublikasikan, hal ini tidak akan berujung pada penangkapan pihak-pihak yang terlibat karena mereka adalah penguasa de facto dan tokoh-tokoh berpengaruh dalam negara.
Yang benar-benar memalukan dari skandal ini adalah apa yang berkaitan dengan orang Arab dan kaum Muslim, terutama apa yang berkaitan dengan hadiah dari pengusaha wanita Saudi yang tinggal di Uni Emirat Arab, Aziza Al-Ahmadi, berupa tiga potong kiswah (kain penutup) Ka’bah kepada Jeffrey Epstein, yang dikirim dari Arab Saudi menggunakan pesawat Inggris ke rumah Epstein di Florida, AS.
Meskipun perbuatan yang dilakukan wanita ini adalah perbuatan yang mengerikan, memalukan, dan tercela, Arab Saudi dan UEA sama sekali tidak memperhatikannya, tidak pula mengomentarinya, apalagi melakukan penyelidikan yang diperlukan. Mereka memperlakukannya seolah-olah itu adalah sesuatu yang normal dan diperbolehkan, padahal itu adalah perbuatan mengerikan yang membuat marah jutaan kaum Muslim yang mengetahuinya. Tetapi negara-negara ini pada kenyataannya hanyalah negara-negara yang merupakan musuh Islam dan kaum Muslim, sehingga mereka tidak peduli dengan perasaan kaum Muslim atau tempat-tempat suci mereka.
Ada skandal lain dalam berkas Epstein, di samping skandalnya yang banyak, yaitu skandal intelijen yang terkait dengan badan intelijen Amerika dan Mossad, di mana semua kejahatan tersebut didokumentasikan melalui perekaman video dan pencetakan, dengan jumlah video mencapai 200.000 dan jumlah foto mencapai 180.000, di samping jutaan dokumen cetak. Jika ini menunjukkan sesuatu, maka itu menunjukkan bahwa kejahatan yang terjadi dilakukan dengan sepengetahuan badan intelijen negara-negara tersebut, yang perhatian utamanya bukanlah untuk mencegah terjadinya kejahatan atau menangkap para pelakunya, melainkan tujuan mereka hanyalah untuk memeras tokoh-tokoh yang terlibat, yang biasanya dilakukan oleh badan-badan ini terhadap banyak politisi di negara-negara Muslim untuk meloloskan agenda politik yang diinginkan.
Perekaman, pembuatan film, dan pengintaian adalah praktik rutin yang digunakan oleh badan intelijen Barat untuk memeras politisi asing dan mengubah mereka menjadi antek bayaran bagi negara-negara Barat.
Keruntuhan peradaban Barat yang menggemparkan ini, yang terungkap melalui berkas Epstein pada seperempat pertama abad ke-21, benar-benar menandai kehancuran peradaban Barat yang akan segera terjadi, dan kembalinya peradaban Islam yang merupakan satu-satunya peradaban yang mampu mengisi kekosongan nilai yang sedang menunggu seseorang untuk mengisinya dengan apa yang sesuai dengan fitrah dan naluri manusia. [] Ustadz Ahmad Al-Khathwani
Sumber: alraiah.net, 11/2/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat