Pada 30 Juli 2026, Arab Saudi mengumumkan pembentukan aliansi maritim multinasional untuk melindungi jalur maritim di Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Teluk Aden, serta untuk meningkatkan keamanan maritim dan melindungi jalur perdagangan internasional di jalur-jalur tersebut. Empat belas negara mengumumkan bergabungnya mereka dalam aliansi yang dipimpin oleh Arab Saudi: Turki, Pakistan, Mesir, Bangladesh, Yordania, Yaman, Qatar, Kuwait, Bahrain, Sudan, Somalia, Djibouti, dan Nigeria. Empat puluh tiga negara berpartisipasi dalam pertemuan pendiriannya. Aliansi tersebut telah dibuatkan struktur administrasi dan organisasinya, termasuk pusat komando dan kendali, pusat operasi maritim gabungan, selain pembentukan Sekretariat Jenderal.
Kemudian, setelah berhari-hari berdiskusi dan berunding antara kepala staf dan perwakilan anggota yang berpartisipasi, pada tanggal 6 Agustus, Arab Saudi mengumumkan penunjukan Laksamana Muda Abdullah bin Salem Al-Shehri untuk memimpin koalisi secara operasional. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi negara lain dalam koalisi hanyalah simbolis dan untuk publikasi media saja, karena tidak ada anggota dari luar Arab Saudi yang dipilih untuk komando angkatan laut koalisi, dan semua beban dalam perang akan ditanggung oleh Arab Saudi sendiri, sementara negara lain hanya berperan memberikan dukungan dari luar negeri.
Aliansi ini pada awalnya hanya mencakup wilayah Laut Merah dan pintu masuk selatannya, dan tidak meluas lebih jauh dari itu. Aliansi ini tidak memiliki hubungan langsung dengan Selat Hormuz atau Iran. Tujuan utamanya terbatas pada upaya memisahkan Houthi dari Iran, yang sepenuhnya sejalan dengan rencana Amerika Serikat untuk menyerang persenjataan Iran di Yaman, Lebanon, dan Irak. Oleh karena itu, ini adalah kebijakan Amerika yang konsisten di kawasan tersebut yang diimplementasikan oleh Arab Saudi dengan dukungan negara-negara yang merupakan bagian dari aliansi ini.
Pertempuran dan konfrontasi di Yaman diperkirakan akan berkepanjangan, dan perang tidak akan mudah diselesaikan, karena Houthi menguasai ibu kota dan berlindung di wilayah pegunungan, sehingga sulit untuk menyingkirkan mereka dan memberikan kekalahan total kepada mereka.
Arab Saudi sebelumnya telah melancarkan perang panjang dengan Yaman dalam Operasi Badai Penentu (Amaliyyah ‘Āṣhifah al-Ḥazm) dan Operasi Memulihkan Harapan (Amaliyyah I’ādah al-Amal) dari tahun 2015 hingga 2019. Perang berlanjut setelah itu, berlangsung selama sepuluh tahun atau lebih. Perang itu tidak menghasilkan kemenangan yang menentukan. Perang di Yaman biasanya berakibat fatal bagi penyerang. Inilah yang terjadi pada Mesir pada masa Gamal Abdel Nasser, yang pasukannya memasuki Yaman pada tahun 1960 dan terus berperang hingga tahun 1967 tanpa hasil. Bahkan, mereka menderita kerugian besar, dan puluhan ribu tentara Mesir tewas. Mesir pada saat itu tidak mampu memaksakan kendali penuh atas Yaman, sehingga pasukannya kembali dari Yaman dengan tangan kosong.
Amerika saat ini, bersama dengan negara-negara yang tergabung dalam aliansi baru tersebut, sangat menyadari fakta-fakta ini. Oleh karena itu, kemungkinan besar partisipasinya dengan Arab Saudi hanya bersifat simbolis, dan beban terbesar akan ditanggung oleh Arab Saudi, serta perang ini tidak akan menghasilkan hasil yang menentukan.
Amerika ingin menyulut perang di Yaman untuk melemahkan Iran, dan untuk menduduki kawasan itu dengan perang-perang baru sebagai pengganti perangnya di Iran. Amerika tidak peduli dengan lamanya perang, maupun kerugian besar yang akan ditimbulkannya di antara kedua belah pihak. Yang penting bagi Amerika hanyalah menyulut perang yang tidak menghabiskan biaya sepeser pun, dan mungkin mencapai beberapa tujuan Amerika di kawasan itu setelah gagal menyelesaikan perangnya dengan Iran.
Mengikuti rencana Amerika di kawasan ini hanya akan membawa kehancuran dan malapetaka, dan tidak akan menghasilkan keuntungan apa pun bagi kekuatan yang berperang. Hanya Amerika yang akan menang, dan yang lainnya akan kalah.
Umat tidak boleh tertipu oleh kebohongan para penguasa yang berpura-pura bahwa mereka akan memenangkan perang melawan satu sama lain. Umat harus menyadari sepenuhnya bahwa Amerika dan negara-negara kafir adalah musuh, sehingga umat harus menganggapnya sebagai musuh. Ingatlah bahwa umat Islam adalah satu umat, agamanya satu, rasulnya satu, dan kiblatnya satu. Umat harus tahu arah kompasnya dan harus bekerja terlebih dahulu untuk mengusir pengaruh Amerika dan Barat dari negeri-negeri Islam, berpegang teguh hanya pada tali Allah dan bersatu. Misi dan tujuannya adalah untuk menolong agama ini dan mendirikan Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah. [] Ustadz Ahmad al-Khathwani
Sumber: alraiah.net, 19/8/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat