Aktivis: Jargon Moderasi Agama Perlu Diwaspadai!
MediaUmat – Aktivis Dakwah Arini Retnaningsih mengingatkan, umat Islam agar mewaspadai jargon moderasi beragama.
“Jargon ini perlu untuk kita waspadai. Mengapa demikian? Karena moderasi beragama ini dari mana lahirnya? Ternyata moderasi ini dilahirkan oleh Rand Corporation, salah satu lembaga think tank-nya Amerika Serikat dalam persoalan kebijakan-kebijakan publik,” tuturnya dalam video Moderasi Menjauhkan Umat dari Islam Kaffah, Sabtu (7/3/2026) di kanal YouTube Mutiara Islam Kafah.
Arini menuturkan, dari hasil survei yang dilakukan Rand Corporation disusun rekomendasi dalam buku yang berjudul Building Moderate Muslim Network.
“Di situ mereka merekomendasikan bahwa kaum muslimin itu harus dimoderasi. Apa artinya? Bagaimana kaum muslimin itu dibuat bisa menerima demokrasi, bisa menerima hak asasi manusia, bisa menerima kebenaran dari agama-agama yang lain atau kita sebut sebagai pluralisme,” jelasnya.
Dalam penilaiannya, ini sejalan dengan peringatan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 120, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka.”
“Apa itu millah? Millah adalah jalan hidup, cara hidup, cara mereka berpikir, cara mereka bersikap. Itu adalah millah, bukan hanya sekadar agama. Karena itulah mereka tidak menginginkan kita untuk keluar dari Islam (murtad), tapi mereka menginginkan agar kita mengikuti jalan mereka. Inilah millah, dan ini sudah diingatkan oleh Allah Taala,” bebernya.
Pencederaan Akidah
Arini juga mengingatkan, konsep moderasi beragama dalam praktiknya akan membawa kepada pencederaan terhadap akidah, pencederaan terhadap syariat.
“Misalnya adanya salam lintas agama, doa lintas agama, kita diminta untuk bisa menerima kebenaran agama yang lain. Dikatakan bahwa Tuhan semua agama itu sama, yang beda itu hanya jalannya,” ulasnya.
Padahal, lanjutnya, Al-Qur’an tegas mengatakan, “Katakan, Allah itu Ahad.” Sedangkan pencederaan terhadap syariat, ia mencontohkan, konsep jihad dikembalikan kepada makna bersungguh-sungguh, dan ditolak jihad dalam makna berperang untuk meninggikan kalimat Allah.
“Begitu juga formalisasi syariah ditolak, penerapan Islam oleh negara ditolak. Kita diarahkan untuk menjadi negara sekuler. Memang ada hukum-hukum agama yang diambil, tapi itu hal yang terkait dengan kepentingan-kepentingan negara, semisal zakat, infak, haji,” kritiknya.
Dengan moderasi beragama, ucapnya, umat dipaksa untuk melepaskan diri dari Islam kaffah. “Moderasi beragama ini akan menjadi batu sandungan bagi umat Islam untuk bisa menerapkan Islam kaffah. Ini yang harus kita waspadai,” tandasnya.
Ia berharap, umat Islam kembali kepada Islam kaffah dengan memperjuangkannya secara berjamaah, sesuai perintah Allah dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 104.
“Inilah partai ideologis yang dengannya kita bisa menyatukan gerak, menyatukan langkah untuk bisa menerapkan Islam kaffah. Hanya dengan Islam kaffah inilah maka moderasi beragama bisa kita singkirkan dalam kehidupan kita,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat