Abu Deedat Sebut Klaim ‘Agama Kasih’ Hanya Separuh Gambaran Alkitab

MediaUmat Menanggapi pembelaan Grace Natalie terkait polemik ceramah Jusuf Kalla (JK), Kristolog Abu Deedat menyebut klaim Kristen sebagai agama kasih hanyalah separuh gambaran dari isi Alkitab yang sebenarnya juga memuat ratusan ayat tentang perintah berperang dan membunuh.

“Klaim kasih ini hanya separuh gambar. Alkitab yang sama memuat ratusan ayat perintah membunuh, berperang, dan memusnahkan,” ujarnya kepada media-umat.com, Senin (18/5/2026).

Sebagai informasi, polemik bermula dari ceramah JK di UGM mengenai rekonsiliasi Ambon dan Poso. Saat itu, ia meluruskan pemahaman keliru sebagian kombatan yang menyalahartikan kekerasan sebagai jalan syahid. Namun, potongan video ceramah tersebut viral secara tidak utuh di media sosial hingga memicu kritik dari Grace Natalie. Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu menyayangkan narasi yang beredar karena dinilai rawan dipelintir dan dapat memicu kesalahpahaman di ruang publik.

Gugatan terhadap Teologi Kasih

Kritik Grace yang membawa narasi Kristen sebagai ‘agama kasih’ inilah yang kemudian memicu respons dari Abu Deedat. Merespons pembelaan tersebut, ia pun memaparkan sejumlah teks Alkitab yang memuat perintah perang dan hukuman mati yang menurutnya jarang dibahas pendeta di mimbar. Dalam kajian ilmiahnya yang bertajuk “Kristen: Agama Kasih atau Agama Pedang?”, ia menepis dalih bahwa hukum kekerasan tersebut hanya berlaku di masa Perjanjian Lama dan sudah digantikan.

Merujuk pada Matius 5:17, Abu Deedat menegaskan bahwa Yesus sendiri menyatakan datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya. Hukum Taurat itu di antaranya memuat sanksi bagi keluarga yang pindah agama (Ulangan 13:6-9) hingga perintah penumpasan total (1 Samuel 15:2-3).

Selain itu, ia juga menunjuk pernyataan metafora pedang dalam Perjanjian Baru, seperti Matius 10:34 (“Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”) dan Lukas 19:27. Menurutnya, deretan teks tersebut menjadi bukti bahwa kitab suci Kristen menyediakan bahan baku narasi kekerasan.

Lima Motif Perang Salib

Lebih lanjut, Abu Deedat mengaitkan ketersediaan teks tersebut dengan realitas sejarah Perang Salib yang berlangsung hampir 200 tahun (1095–1291 M) dan menelan korban hingga jutaan jiwa. Ia menjelaskan bahwa tragedi besar itu digerakkan oleh lima motif yang saling bertumpang tindih.

Pertama, motif politik kekuasaan gereja yang memperlihatkan Paus Urbanus II menggunakan seruan perang demi memperkuat otoritas Vatikan di atas raja-raja Eropa sekaligus menundukkan Gereja Ortodoks Timur.

Kedua, motif ekonomi dan rampasan dengan memanfaatkan krisis ekonomi di Eropa melalui janji pihak gereja bahwa wilayah Timur Tengah merupakan kawasan makmur sebagai “tanah yang mengalirkan susu dan madu”.

Ketiga, motif ideologi Alkitab dan doktrin melalui penerapan konsep “Perang Suci” (Just War) dari St. Augustine serta doktrin Indulgensi atau jaminan masuk surga bagi peserta perang.

Keempat, motif sosial yang bertujuan mengalihkan energi konflik internal dan perang saudara antar-kerajaan di Eropa ke luar kawasan. Serta kelima, motif supremasi budaya melalui pembangunan sentimen nasionalisme agama dengan narasi “bangsa terpilih” melawan kelompok lain.

Perbedaan Metodologi Teks dengan Islam

Di sisi lain, Abu Deedat menilai ada jurang pemisah yang besar antara narasi kasih dan kenyataan sejarah kekerasan Barat karena faktor kontradiksi internal teks dan ketiadaan sistem tafsir yang ketat.

Berbeda dengan Islam yang memiliki ilmu ushul fiqh, ulumul Quran, dan sanad keilmuan yang terjaga, Kristen dianggap tidak memiliki metodologi baku yang ketat. Akibatnya, teks Alkitab rentan ditafsirkan secara oportunistik oleh penguasa demi kepentingan politik atau perang.

Di akhir kajiannya, Abu Deedat membandingkan aturan baku peperangan di dalam Islam yang diatur ketat oleh Al-Qur’an, seperti larangan melampaui batas dan larangan membunuh wanita maupun anak-anak (QS al-Baqarah: 190 dan QS al-Ma’idah: 32).

“Islam tidak anti-kasih, melainkan mengajarkan kasih yang berakar pada keadilan. Kejujuran ilmiah mengharuskan kita melihat teks secara utuh, bukan hanya separuh yang menguntungkan,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: