Farid Wadjdi: Isu Nuklir Iran Hanya Alibi Kepentingan Ekonomi AS

 Farid Wadjdi: Isu Nuklir Iran Hanya Alibi Kepentingan Ekonomi AS

MediaUmat – Pergeseran fokus Amerika Serikat yang kini memprioritaskan penurunan harga minyak domestik ketimbang pencegahan program nuklir Iran dinilai telah membuktikan bahwa isu ancaman nuklir Teheran selama ini sekadar alibi yang direkayasa Washington demi menutupi kepentingan ekonominya.

“Isu nuklir ini sebenarnya adalah isu yang dicari-cari atau dibuat-buat oleh Amerika Serikat,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi kepada media-umat.com, Ahad (16/8/2026).

Sebelumnya diberitakan, Wakil Presiden AS JD Vance pada Kamis (13/8/2026) mengungkapkan prioritas utama Washington dalam perang melawan Iran adalah menjaga harga minyak dan gas tetap murah bagi warga Amerika. Sementara pencegahan kepemilikan senjata nuklir digeser menjadi prioritas kedua, sebuah sikap yang bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump di tengah memanasnya konflik Selat Hormuz.

Farid menegaskan, sebagai negara kapitalis, motif utama AS di balik berbagai invasi dan sanksi internasional selalu berorientasi pada penguasaan sumber daya alam. Pengubahan rezim Iran menurutnya semata-mata diincar demi mengeruk keuntungan besar dari minyak.

“Sekali lagi ini menunjukkan kepada kita bahwa di balik tindakan-tindakan Amerika yang mengeklaim ancaman nuklir, HAM, atau demokrasi, itu adalah isu yang sengaja dibangun untuk melegitimasi kepentingan utama Amerika menguasai ekonomi suatu negara,” tegasnya.

Kekuatan Politik Mandiri

Untuk itu, Farid menekankan bahwa manipulasi politik luar negeri Negeri Paman Sam hanya bisa dihentikan jika kaum Muslim memiliki kekuatan politik mandiri berlandaskan ideologi Islam. Tanpa hal tersebut, umat Islam akan terus menjadi objek permainan narasi Barat mulai dari isu terorisme hingga nuklir.

“Ini hanya bisa dihentikan dengan kekuatan kita sendiri. Tidak bisa dihentikan dengan berharap Amerika akan berubah karena pada prinsipnya Amerika tidak akan pernah berubah sebagai negara kapitalis,” terangnya.

Ia menambahkan, politik luar negeri AS berakar pada kapitalisme dengan metode baku berupa penjajahan yang tak akan pernah berhenti. Menurutnya, satu-satunya cara menghentikan hal tersebut adalah dengan menghadirkan kekuatan politik nyata dari dunia Islam untuk membendung hingga melemahkan dominasi AS.

“Di situlah kenapa sangat relevan umat membangun suatu kekuatan politik, dan itu tidak mungkin tanpa adanya negara yang kuat, yang oleh para ulama disebut sebagai negara Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *