Sudah Saatnya Sosok Seperti Aurangzeb Muncul di Militer Bangladesh untuk Permalukan Negara Hindu
Keputusan untuk mengizinkan Sheikh Hasina berinteraksi langsung dengan para wartawan di Delhi telah memicu ketegangan baru dalam hubungan Bangladesh-India … Sejumlah sumber pemerintah dan diplomatik yang berwenang di Bangladesh mengungkapkan kepada “Prothom Alo” bahwa, dua hari sebelum acara Sheikh Hasina di Delhi, perwakilan Bangladesh di tingkat pengambil kebijakan telah berkomunikasi dengan seorang pejabat senior pemerintah India (en.prothomalo.com, 8/8/2026).
Penguasa Bangladesh saat ini menerapkan metode yang sama dalam menyikapi India sebagaimana yang dilakukan oleh mantan penguasa yang telah jatuh kehormatannya, Sheikh Hasina. Mereka berupaya menormalisasi hubungan dengan negara Hindu tersebut secara permanen dan tanpa batas waktu. Bukankah permusuhan negara Hindu itu terhadap Islam dan kaum Muslim sudah cukup jelas? Salah satu tindakan kriminalnya, dan ini yang tergolong paling ringan, adalah upayanya menciptakan ketidakstabilan di Bangladesh dengan memberikan dukungan terbuka kepada pengkhianat Sheikh Hasina, antek Barat dan musuh Islam, serta memberinya kebebasan bergerak yang luas.
Negara Hindu ini telah mengkonsolidasikan pendudukannya di wilayah Kashmir yang diduduki selama tujuh tahun terakhir, dan secara brutal menindas kaum Muslim. Negara Hindu ini terus menerus menganiaya umat Islam di bawah kekuasaannya dengan kejam, termasuk jutaan kaum Muslim di Assam, yang berbatasan dengan Bangladesh. Negara Hindu ini telah meningkatkan kerja sama militer, intelijen dan keamanan dengan entitas Yahudi ketika mereka melakukan genosida di Gaza selama tiga tahun terakhir. Ideologi Hindutva para penguasa India dibangun di atas konsep Akhund Bharat (India Raya) yang menganggap seluruh Bangladesh sebagai bagiannya. Sesungguhnya orang-orang musyrik Hindu adalah orang-orang yang suka menipu, yang mulutnya mengucapkan kata-kata damai, sedangkan mereka menyembunyikan senjata di bawah ketiaknya.
Metode yang tepat dalam menyikapi kaum musyrik Hindu adalah metode Rasulullah SAW dalam menyikapi kaum musyrik. Hubungan antara kaum Muslimin dan kaum musyrik harus didasarkan pada tiga hal: memeluk Islam, membayar Jizyah sebagai warga yang dilindungi oleh negara Khilafah, atau peperangan untuk menyingkirkan hambatan bagi penerapan Islam ataupun untuk membebaskan wilayah yang diduduki.
Dengan demikian, kita melihat bahwa Negara Islam di Madinah meluas dengan pesat dan berkelanjutan, hingga seluruh Semenanjung Arab berada di bawah naungan Islam. Adapun Perjanjian Hudaibiyah, hal itu membuktikan bahwa setiap perjanjian yang disepakati haruslah bersifat sementara dengan batas waktu yang jelas dan ditetapkan, apabila ada jeda sementara waktu, maka itu dilakukan demi kemaslahatan Islam dan kaum Muslim, serta sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Syariat.
Wahai kaum Muslim Bangladesh! Kita tidak akan pernah melupakan bahwa Sultan Aurangzeb Alamgir senantiasa berpegang teguh pada metode Rasulullah SAW dalam menghadapi kaum musyrik. Sultan Aurangzeb Alamgir dengan gagah berani membebaskan Chittagong, yang kini menjadi bagian dari Bangladesh, dari cengkeraman kaum musyrik Buddha Arakan saat mereka berada di puncak kekuasaan, yang sekaligus menyebabkan runtuhnya kekaisaran mereka yang telah berdiri selama lima abad. Aurangzeb tidak membiarkan kaum Muslim terus tertindas oleh kaum musyrik Hindu. Dia juga tidak menjalin hubungan permanen dengan kaum musyrik yang akan memberikan mereka jalan untuk menguasai orang-orang beriman. Seandainya ia menempuh jalan Sheikh Hasina, niscaya noda syirik akan menyebar ke seluruh negeri.
Sesungguhnya, terdapat lebih dari satu sosok Aurangzeb di dalam angkatan bersenjata Bangladesh. Kita harus menghubungi mereka dan mendesaknya untuk menegakkan Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah. Saat Khilaah tegak, maka sosok-sosok seperti Aurangzeb dari Bangladesh dapat menegakkan kembali dominasi Islam atas seluruh Anak Benua India, dari timur hingga baratnya, meskipun kaum musyrik Hindu membencinya. Allah SWT berfirman:
﴿هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ﴾
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (TQS. At-Taubah [9] : 33). (hizb-ut-tahrir.info, 10/8/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat