Para Penguasa Muslim Mengemis Dukungan Kekuasaan dari Kekuatan Barat, Bukan untuk Urusan Kaum Muslim
Salah satu sumber yang dekat dengan lingkaran dalam Munir mengatakan bahwa sang panglima militer “menegaskan secara jelas bahwa kelompok-kelompok Islamis ini dan Pakistan yang sedang berkembang tidak dapat berjalan beriringan.” Sumber tersebut menambahkan, Munir terlibat langsung dalam memastikan kebijakan tanpa toleransi terhadap kelompok-kelompok fundamentalis tersebut, seraya berupaya menampilkan citra positif Pakistan sebagai negara pemilik senjata nuklir (reuters.com, 6/8/2026).
Kabar yang beredar di media Barat bahwa penguasa sesungguhnya di Pakistan, Munir, menentang penyebaran Islam, sehingga ini memberi sinyal bagi negara-negara Barat bahwa Munir adalah “orang mereka”. Isu semacam ini sengaja dimunculkan setiap kali kekuasaan sang penguasa menghadapi tantangan di dalam negeri; tujuannya agar negara-negara Barat tidak membuangnya ke “tong sampah sejarah” lalu memilih agen lain untuk menggantikannya. Contoh nyata dalam sejarah terkini adalah kasus Jenderal Musharraf, sahabat George H. W. Bush, ketika John Dimitri Negroponte (yang saat itu menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri AS) secara kasar menunjuk Kayani untuk menggantikannya, padahal selama bertahun-tahun Musharraf telah berupaya keras demi mengamankan kepentingan AS di negeri-negeri Islam.
Tidak diragukan lagi, bahwa Munir sedang menghadapi tantangan serius terhadap otoritasnya, yang diperkirakan akan semakin besar di masa mendatang. Munir menghadapi sentimen negatif di internal institusi akibat perpanjangan masa jabatan komando militernya, karena hal tersebut menghambat promosi bagi banyak perwira yang kompeten. Angkatan Darat memiliki keyakinan pada kapabilitas institusionalnya sendiri dan menolak anggapan bahwa kesejahteraan institusi bergantung pada sosok tertentu. Munir menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat pada November 2022, ia melampaui sejumlah jenderal lainnya, dengan jadwal pensiun semula pada November 2025. Namun, pada November 2024, masa jabatannya diperpanjang hingga November 2027. Pada bulan Desember 2025, Munir ditunjuk sebagai Kepala Angkatan Bersenjata (CDF) pertama Pakistan dan kini akan memegang komando hingga November 2030. Munir juga menghadapi penentangan parlemen terhadap faksi politik yang didukungnya dan sedang berkuasa di bawah kepemimpinan Shehbaz Sharif. Dengan memanfaatkan kemarahan publik yang meluas akibat kegagalan sistem yang nyata, faksi-faksi politik pesaing kini aktif berupaya memaksakan penyelenggaraan pemilihan umum sela. Di tengah krisis kepemimpinan yang melanda, Munir berupaya semaksimal mungkin untuk membuktikan kegunaan dirinya bagi pihak-pihak yang memegang kendali atasnya di Washington.
Sesungguhnya, Munir bukanlah pengecualian di antara para penguasa kaum Muslim; ia justru mencerminkan pola umum yang berlaku. Takhta mereka yang rapuh bergantung pada dukungan asing, sehingga mereka tunduk pada hukum, kebijakan, dan dikte kaum kafir. Mereka mengabaikan segala hak yang telah diberikan Islam kepada kaum Muslim serta mengkhianati berbagai perjuangan umat, termasuk isu Palestina dan Kashmir. Selama berpuluh-puluh tahun, mereka membiarkan dunia Islam menderita akibat kesengsaraan ekonomi dan kehinaan dalam kebijakan luar negeri, padahal umat Islam memiliki sumber daya yang sangat melimpah. Mereka menggunakan kekerasan untuk menindas kaum lemah yang menuntut hak-hak mereka, sembari membanggakan diri karena mampu membangun negara dengan tangan besi. Mereka menjadi penghalang bagi pemeliharaan urusan umat Islam yang sesuai Syariah Allah SWT.
Wahai kaum Muslim! Sampai kapan kalian akan mentolerir para antek Barat dan pengikutnya sebagai penguasa? Sampai kapan kalian akan mentolerir pengabaian hak-hak kalian yang telah diberikan Allah SWT, Tuhan seluruh umat manusia? Sampai kapan kalian akan mentolerir pemerintahan yang menindas? Penguasa dalam syariat memperoleh otoritasnya dengan baiat yang sah dari umat Islam, atas persetujuan dan pilihan, sehingga ia memerintah mereka berdasarkan Kitab Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW. Penguasa dalam syariat menganggap bahwa orang yang ditolak hak-hak syariatnya sebagai orang yang kuat di hadapannya, karena takut akan azab Allah SWT. Khalifah Rasyidin pertama, Abu Bakar As-Siddiq—semoga Allah meridahinya—menyatakan:
«وَالضَّعِيفُ فِيكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِي حَتَّى أُرِيحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمْ ضَعِيفٌ عِنْدِي حَتَّى آخُذَ الْحَقَّ مِنْهُ إِنْ شَاءَ اللهُ»
“Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat di hadapanku sampai aku mengembalikan haknya, dengan izin Allah, sebaliknya orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di hadapanku sampai aku mengambil hak darinya, dengan izin Allah.”
Oleh karena itu, wahai kaum Muslim, berjuanglah demi tegaknya kembali Khilafah Rasyidah, yang akan menganugerahkan kepada kalian kemuliaan dan kesejahteraan di dunia serta pahala yang melimpah di akhirat (hizb-ut-tahrir.info, 10/8/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat