Maroko Mempermainkan Nasib Rakyat yang Ditelantarkannya

 Maroko Mempermainkan Nasib Rakyat yang Ditelantarkannya

Membanjirnya sekitar 72.000 warga Maroko ke wilayah kantong Spanyol, Ceuta, antara akhir Juli dan awal Agustus memicu kecaman keras dari kalangan sayap kanan Eropa; mereka menyebut masuknya massa secara mendadak itu sebagai “invasi pria usia militer” dan memperingatkan bahwa kebijakan migrasi Eropa yang longgar akan berujung pada “pemerkosaan dan pembunuhan”.  Italia menutup perbatasannya dengan Spanyol, dengan klaim palsu dan alasan populis bahwa para migran yang tidak memiliki izin masuk (visa) untuk mencapai daratan Eropa akan menyebar ke seluruh Eropa.

Maroko mendorong peristiwa ini karena alasan politik, dan hal itu dipuji oleh entitas Zionis  sekutu raja Maroko; sang raja yang sama sekali tidak keberatan mempermainkan nyawa dan penghidupan rakyatnya, di mana separuh dari penduduk berusia di bawah 35 tahun adalah pengangguran. Para pemuda yang berdemonstrasi untuk hak-hak dasar pada tahun 2025 kini mempertaruhkan nyawa mereka demi masa depan yang dijanjikan Eropa.

Setidaknya 72 jenazah telah ditemukan di sisi Spanyol saja, banyak di antaranya tenggelam saat berenang sejauh lima kilometer dari Fnideq. Sebagian besar kembali dalam beberapa hari, namun narasi anti-Muslim sayap kanan—yang dipicu oleh kebencian terhadap Islam dan eksploitasi lawan politik mereka untuk keuntungan politik—masih dan terus berlanjut (hizb-ut-tahrir.info, 7/8/2026).

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *