IJM: Ada Permainan Oligarki Batu Bara di Balik Blackout

 IJM: Ada Permainan Oligarki Batu Bara di Balik Blackout

MediaUmat – Terjadinya blackout (pemadaman listrik bergilir berskala luas) di Pulau Jawa dinilai Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana ada permainan oligarki batu bara di balik ini semua.

“Ternyata ada permainan oligarki batu bara di balik ini semua,” ujarnya dalam siniar Ada Kuasa Oligarki di Industri Batu Bara, Kamis (25/6/2026) di kanal YouTube Khilafah News.

Berdasarkan data, jelas Agung, stok batu bara nasional sebenarnya aman bahkan melimpah. “Tapi Perusahaan Listrik Negara (PLN) kemarin tidak terpenuhi kiriman batu bara kalori menengah,” bebernya.

“Kenapa?” ujarnya. Pasalnya pengusaha tambang enggan tanda tangan kontrak.

Ia menyebutkan ada celah kontrak sekitar 20 juta ton yang mandek.

Kemudian ia memaparkan keengganan oligarki tanda tangan kontrak sehingga mandek.

“Sederhana aja, cuan ekspor jauh lebih menggiurkan. Harga ekspor batu bara ke pasar global lagi legit-legitnya ya, tembus 125 sampai 130 US dolar per ton. Sementara harga Domestic Market Obligation (DMO) batu bara atau kewajiban pasok dalam negeri untuk PLN, harganya dikunci maksimal 70 US dolar per ton untuk kalori tinggi dan kalori menengah sekitar 35 sampai 38 US dolar per ton,” ulasnya.

Akhirnya, kata Agung, demi keuntungan besar, akhirnya pengusaha batu bara itu memilih ekspor duluan daripada memenuhi kebutuhan PLN.

“Artinya, batu bara disetir oleh oligarki tambang batu bara daripada kepentingan rakyat,” tegasnya.

Menurutnya, di sinilah letak masalah sistemiknya. Ketika hajat hidup orang banyak yaitu listrik bergantung pada bahan baku yang dikuasai dan dikelola oleh korporasi swasta komersial. Begitu pengusaha enggak mau rugi, rakyat yang harus gelap-gelapan.

Solusi Islam Konkret dan Sistemik

Sebagai penyelesaian permasalahan ini Agung menawarkan solusi Islam yang konkret dan sistemik.

“Islam punya solusi yang sangat konkret dan sistemik lewat aturan kepemilikan. Dalam hukum ekonomi Islam, batu bara dengan deposit melimpah dan listrik dikategorikan sebagai milkiyatul ‘ammah, kepemilikan umum,” tuturnya.

Lalu ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Manusia berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang gembalaan dan api.”

Api di era modern ini, sebut Agung, ya maknanya energi dan listrik. Artinya, haram hukumnya memprivatisasi tambang batu bara raksasa dan menyerahkannya kepada swasta.

Dalam sistem Islam, lanjutnya, negaralah yang wajib mengelola tambang batu bara ini secara mandiri dari hulu sampai hilir. Hasilnya langsung disalurkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) negara untuk menghasilkan listrik.

“Enggak akan ada lagi cerita nego harga, macet atau pengusaha ogah pasok karena ngejar ekspor. Listrik pun bisa didistribusikan kepada rakyat dengan harga murah berbasis biaya produksi riil tanpa komersialisasi, bahkan gratis kalau kas negara memang melimpah,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurut Agung, sudah saatnya umat beralih dari sistem yang cuma menguntungkan segelintir oligarki ke sistem yang menjamin maslahat untuk seluruh umat.

“Dan saya enggak akan bosan-bosan ngomong, semua tadi bisa berjalan kalau ada sistem politik yang menjamin semua tadi berjalan. Itulah yang namanya khilafah islamiah,” pungkasnya.[] Muhammad Nur

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *