Kiai Labib: Tanda Amal Diterima, Ketaatan Melahirkan Ketaatan Berikutnya

 Kiai Labib: Tanda Amal Diterima, Ketaatan Melahirkan Ketaatan Berikutnya

MediaUmat – Ulama KH Rokhmat S. Labib menegaskan, salah satu tanda diterimanya amal adalah lahirnya amal saleh berikutnya sehingga seorang Muslim semakin mudah melakukan ketaatan kepada Allah SWT.

“Tanda diterimanya amal itu adalah amal itu lebih baik. Jadi ada penjelasan para ulama mengatakan, termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang dikerjakan sesudahnya,” tegas Kiai Labib dalam diskusi Tanda Amal Kita Diterima yang ditayangkan kanal YouTube KEDOE TV, Sabtu (13/6/2026).

Kiai Labib mencontohkan, diterimanya suatu amal dapat dilihat dari lahirnya amal saleh berikutnya. Salah satunya ketika shalat fardu membuat seseorang semakin ringan mengerjakan ibadah sunah.

“Apa tanda bahwa shalat fardu itu diterima? Ketika shalat fardu itu membuat dia ringan untuk mengerjakan shalat rawatib,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ketaatan yang diterima akan mendorong seorang Muslim terus meningkatkan amalnya. Semakin besar kelezatan dalam menjalankan syariat Allah SWT, semakin besar pula dorongan untuk menambah ketaatan.

“Ketika orang melakukan satu hal, maka dia akan cenderung terus meningkat. Itulah buah dari kelezatan ketika dia taat terhadap syariat itu,” katanya.

Ia menjelaskan, Allah SWT memberikan kemudahan kepada hamba yang bertakwa untuk terus berada dalam jalan kebaikan. Karena itu, ketakwaan yang bertambah akan melahirkan ketakwaan berikutnya.

“Ayat-ayat itu menunjukkan bahwa ketika orang itu makin takwa diberikan kemudahan untuk semakin takwa,” terangnya.

Sebagai contoh, ia menggambarkan seseorang yang merasakan nikmatnya menuntut ilmu. Menurutnya, kenikmatan dalam kebaikan akan membuat seseorang terdorong untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas dirinya.

“Kalau sekarang belajar, besok pengin belajar lagi, belajar lagi begitu, meningkat terus,” paparnya.

Menurut Labib, kemudahan melakukan ketaatan secara berulang merupakan bagian dari istiqamah dalam kebaikan. Karena itu, istiqamah bukan sekadar konsisten, melainkan konsisten dalam kebenaran dan ketaatan kepada Allah SWT.

“Kalau disebut istiqamah itu harus positif. Jadi kalau mau disebut konsisten, konsisten dalam kebaikan,” ungkapnya.

Karena itu, seseorang tidak disebut istiqamah ketika terus-menerus melakukan kemaksiatan. Istiqamah hanya dapat disematkan kepada orang yang tetap berjalan di atas jalan yang benar dan mengantarkannya kepada tujuan yang benar.

“Orang yang mustaqim, orang yang lurus, itu adalah orang yang menapaki jalan yang lurus,” tegasnya.

Ia menegaskan, lahirnya amal saleh setelah amal saleh merupakan salah satu tanda diterimanya amal yang telah dikerjakan seorang Muslim. Karena itu, semakin seseorang dimudahkan untuk terus berada dalam ketaatan, semakin besar harapan bahwa amalnya diterima Allah SWT.

“Termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang dikerjakan sesudahnya,” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat


Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *