MSPI: Perubahan Harus Menyasar Akar Masalah

 MSPI: Perubahan Harus Menyasar Akar Masalah

MediaUmat – Mengomentari gelombang demonstrasi mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah, Peneliti dari Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan mengingatkan, perubahan yang diperjuangkan mahasiswa harus menyasar akar persoalan yang melahirkan berbagai problem bangsa, bukan sekadar pergantian figur penguasa.

“Fokuskan perubahan itu kepada akar masalahnya bukan semata aspek inkompetensi personal,” tegasnya dalam diskusi Ada Apa di Balik Demo Mahasiswa “Reformasi Jilid II”, Revisi UU Polri, dan Manuver Setoran U$20 … di kanal YouTube NGAJI SHUBUH, Senin (15/6/2026).

Menurut Riyan, demonstrasi mahasiswa menunjukkan adanya keresahan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini.

“Mereka melakukan demo tadi yang rencananya di Bundaran HI itu untuk menyadarkan rakyat bahwa kondisi kita tidak sedang baik-baik saja,” ujarnya.

Ia menilai berbagai tuntutan yang disuarakan mahasiswa berangkat dari persoalan yang nyata dirasakan masyarakat. Mulai dari tingginya harga kebutuhan pokok, kebijakan ekonomi yang membebani rakyat, hingga penggunaan anggaran negara yang dinilai tidak berpihak pada kebutuhan mendasar rakyat.

“Harusnya kemudian itu untuk pendidikan, kesehatan yang gratis berkeadilan. Nah mereka malah bagi-bagi proyek,” ujarnya.

Ia juga menyinggung berbagai polemik kebijakan pemerintah yang menjadi sorotan publik dan turut memicu kritik mahasiswa.

“Mulai dari masalah keracunan massal, insentif enam juta per hari untuk mitra SPPG, melibatkan aparat dalam pengelolaan dapur MBG,” paparnya.

Menurutnya, aksi mahasiswa tidak semestinya ditakuti atau dihadang secara berlebihan.

“Ini menjadi hal yang tentu sekali lagi bukan untuk ditakuti ya atau bukan untuk kemudian dihadang sedemikian rupa,” tegasnya.

Ia pun mempertanyakan pengerahan aparat dalam jumlah besar dalam menghadapi aksi mahasiswa.

“Kenapa mesti kemudian menurunkan begitu banyak pasukan, terutama melibatkan TNI?” tanyanya.

Menurutnya, berbagai persoalan yang disorot mahasiswa tidak dapat dipandang sebagai kasus yang berdiri sendiri. Karena itu, arah perubahan tidak boleh berhenti pada persoalan-persoalan cabang.

“Jangan sampai fokusnya hanya pada persoalan-persoalan cabang,” pesannya.

Ia menilai problem yang sama terus berulang meskipun terjadi pergantian pejabat maupun pemerintahan.

“Sekadar pergantian person hanya akan menambah panjang penderitaan rakyat dengan pola perbaikan yang sifatnya parsial saja,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Riyan, perhatian tidak boleh hanya tertuju pada individu yang sedang berkuasa, melainkan pada sistem yang melahirkan berbagai problem tersebut.

“Akar masalahnya itu negara terperangkap dalam penerapan sistem sekuler kapitalistik demokrasi yang liberal,” tandasnya.

Ia menilai selama sistem tersebut tetap dipertahankan, berbagai persoalan yang dikeluhkan rakyat akan terus berulang. Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup melalui pergantian figur semata.

Sebagai solusi, Riyan menegaskan perlunya penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

“Negara memastikan kebutuhan primer individu dan memberikan jaminan kebutuhan kolektif pendidikan, kesehatan, dan keamanan dengan penerapan syariah kaffah,” jelasnya.

Menurutnya, perubahan yang hakiki harus menyentuh sistem yang menjadi sumber persoalan.

“Kalau tidak dengan sistem Islam yang kaffah, adakah harapan perubahan yang hakiki, komprehensif, serta fundamental itu akan terjadi?” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *