Pertamax Naik, IJM: Masalah Ruwet Sistemik!
MediaUmat – Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana menilai kenaikan Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter, adalah masalah ruwet sistemik.
“Pertamax naik jadi Rp.16.250 per liter. Masalah bensin naik ini adalah masalah ruwet sistemik,” tuturnya dalam unggahan video Pertamax Naik, Dompet Makin Tipis? di akun Facebook Agung Wisnu, Sabtu (13/6/2026).
Jelas Agung, harga Pertamax naik karena negeri ini hidup dalam sistem kapitalisme global.
“Sejak Perang Dunia I, minyak sudah jadi alat geopolitik negara adidaya. Bahkan runtuhnya Kekhilafahan Turki Ustmani tidak bisa lepas dari bagi-bagi ladang minyak Timur Tenggah lewat perjanjian Sykes-Picot,” ulasnya.
Parahnya, lanjut Agung, harga minyak dunia sekarang tidak ditentukan oleh biaya produksi real tapi digoreng lewat paper oil alias pasar komoditas berjangka atau future trading yang spekulatif.
“Ini sektor nonriil yang digoreng berulang kali. Gangguan pasokan minyak 1 persen saja, langsung goyang. Bayangkan krisis Selat Hormuz yang mengancam 20 persen pasokan dunia. Ngeri ini. Para spekulan langsung panik dan menggoreng harga kertas minyak hingga melambung tinggi,” bebernya.
Kemudian, papar Agung, negeri ini kejebak liberalisasi migas lewat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001, yang membuka sektor ini lebar-lebar untuk korporasi asing.
“Padahal MK tahun 2003 sudah melarang harga BBM diserahkan ke mekanisme pasar bebas. Tapi nyatanya formula harga BBM kita hari ini tetap mengekor harga pasar Singapura MOPS dan kurs dolar Amerika Serikat,” kritiknya.
Menurut Agung, meskipun kapasitas kilang minyak naik lewat proyek RDMP, Indonesia tetap net importir minyak mentah.
Jadi, tegas Agung, pergantian orang dalam sistem kapitalisme, rakyat tetap akan jadi korban fluktuasi harga global.
“mau gonta-ganti presiden atau menteri, kalau sistemnya kayak gini, rakyat tetap akan jadi korban fluktuasi harga global,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agung menyampaikan, kelas menengah di Indonesia itu jumlahnya hampir mendominasi, hampir 66 persen populasi. Merekalah motor utama yang menyumbang 81 persen konsumsi rumah tangga. Begitu harga Pertamax melonjak 32 persen, mereka terpaksa ngerem belanja hal lain.
“Efeknya warung sepi, UMKM kehilangan pembeli, dan biaya logistik barang pokok ikutan naik. Belum lagi kalau pengguna Pertamax ikutan rame-rame migrasi ke Pertalite, APBN bisa jebol karena beban subsidi yang membengkak,” pungkasnya.[] Novita Ratnasari
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat