Khotib Arafah Memperingatkan terhadap Slogan-Slogan Politik dan Partisan!
Dalam khotbahnya pada Hari Arafah, Selasa lalu, 26 Mei 2026, Syeikh Ali al-Hudhaifi, Imam dan Khotib Masjidil Haram, menekankan bahwa “Allah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk menyucikan Baitullah bagi mereka yang melakukan tawaf, mereka yang beribadat (mendirikan shalat), serta mereka yang ruku’ dan sujud. Hal ini mencerminkan perlunya menyucikan Baitullah dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kesuciannya. Seharusnya tidak ada slogan-slogan politik atau seruan partisan, melainkan ketaatan kepada Allah dan mengikuti Nabi-Nya, baik lahiriah maupun batiniah.” (alaraby.co.uk, 26/5/2026).
**** **** ****
Sekilas melihat sejarah umat Islam yang mengakar ini menunjukkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallama menunjuk Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin pelaksanaan ibadah haji pada tahun kesembilan Hijrah. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyampaikan khotbah di Arafah, memimpin salat berjamaah, dan mengawasi ritual-ritual ibadah. Beliau mengajarkan tata cara ibadah haji kepada para jamaah.
Ketika Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallama menunaikan ibadah haji perpisahan (haji wada’) pada tahun kesepuluh Hijrah, beliau bersabda kepada masyarakat dengan khotbah yang menyeluruh dan menyentuh, yang membuat hati bergetar dan mata menitikkan air mata. Di dalamnya, beliau melarang pertumpahan darah kaum Muslim satu sama lain dan memperingatkan mereka agar tidak kembali menjadi kafir dengan saling membunuh satu sama lain. Beliau melarang penyerangan terhadap harta benda dan kehormatan. Beliau menghapuskan balas dendam kesukuan pra-Islam (Jahiliyah) dan menghancurkan sistem ekonomi dan sosial pra-Islam. Beliau mengharamkan riba dalam segala bentuk dan manifestasinya. Beliau menghapuskan kesombongan berdasarkan garis keturunan, menasihati kaum Muslim untuk memperlakukan wanita dengan baik, menetapkan hak dan kewajiban masing-masing terhadap yang lain, serta memerintahkan mereka untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallalahu ‘alaihi wa sallama, juga mewajibkan mereka untuk taat kepada penguasa mereka, sekalipun penguasa mereka adalah seorang budak Etiopia, selama dia memimpin mereka dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Khutbah beliau shallalahu ‘alaihi wa sallama, bagaikan konstitusi dan perjanjian bagi umat setelahnya. Ketika Khulafaur Rasyidin melaksanakan ibadah haji, merekalah yang menyampaikan khutbah pada Hari Arafah. Haji adalah ritual tahunan di mana Khalifah bertemu dengan para gubernur dan rakyatnya, mendengarkan keluhan masyarakat, dan mengambil hak-hak kaum tertindas dari para penindas. Haji bukan sekadar pelaksanaan ritual, tetapi momentum di mana penguasa bertemu dengan yang diperintah dan persatuan sejati kaum Muslim terwujud. Khalifah, para panguasa, dan seluruh rakyat setara seperti gigi sisir, tanpa ada yang lebih unggul dari yang lain kecuali kualitas ketakwaannya.
Kemudian, setelah para imam besar ini, datanglah para penguasa ruwaibidhah, yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsunya, tidak mengindahkan hukum Allah serta tidak mengambil pelajaran dari ritual haji. Sebaliknya, musim haji menjadi mimpi buruk bagi mereka yang mengganggu tidur dan menggagalkan rencana mereka. Mereka bekerja siang dan malam untuk memecah belah umat dengan nasionalisme dan etnisitas yang keji dan busuk. Musim Haji datang untuk menyatukan kaum Muslim di satu tempat dan dengan satu rangkaian ritual, terlepas dari perbedaan negeri, bahasa, dan etnis mereka, hal ini menekankan persatuan mereka, sebab hukum asalnya adalah persatuan, bukan perpecahan. Sehingga Anda tidak akan menemukan perbedaan antara Muslim dari China dan Muslim dari Afrika, misalnya, atau Muslim dari Syam. Anda tidak dapat membedakan orang miskin dari orang kaya, atau pemimpin dari rakyat biasa. Oleh karena itu, musim Haji ini telah merusak semua rencana yang dirajutnya oleh kelompok penguasa ini sepanjang tahun.
Dan sebagai upaya lebih lanjut mereka untuk merusak musim yang agung ini, para penguasa Dinasti Saud menunjuk para khothib yang memuji mereka dan sebagai juru bicara resmi atas nama mereka, yang menyampaikan khutbah kepada kaum Muslim yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan yang sedang menimpa mereka, serta dengan kemungkaran yang mengelilingi Masjidil Haram dari segala sisi, dan kemerosotan moral yang telah meluas di tanah Dua Masjid Suci, namun mereka tidak memperhatikannya, begitu juga dengan darah kaum Muslim di Palestina, khususnya Gaza, dan Lebanon yang darahnya terus tertumpah tanpa henti, bahwa semua itu tidak membangkitkan semangat mereka, bahkan orang-orang Yahudi menimbulkan kekacauan dan kehancuran di lebih dari satu negeri kaum Muslim, namun para khothib ini benar-benar berada dalam keadaan yang tidak menyadari, sehingga sama sekali tidak menyerukan mobilisasi umum, mereka juga tidak berbicara kepada kaum Muslim tentang persatuan, padahal di depan mata mereka terbentang lebih dari satu juta tujuh ratus ribu jamaah haji yang datang dari negeri-negeri Islam yang perbatasan, bendera, dan penguasanya dirancang oleh kaum kafir penjajah setelah mereka hidup dalam satu Negara Khilafah yang mengguncang bumi, sehingga rasa takut memenuhi hati semua musuh, namun para khothib ini sama sekali tidak membicarakan hal tersebut. Sebaliknya, yang menjadi perhatian mereka dan para pemimpin mereka adalah seruan untuk tidak membawa slogan-slogan politik atau seruan partisan selama pelaksanaan ibadah haji! Ketahuilah wahai para khothib bahwa kalian akan berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, dan Dia akan meminta pertanggungjawaban kalian tentang amanah ilmu yang kalian miliki dan yang kalian sembunyikan. Kami memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga ibadah haji tahun ini menjadi yang terakhir yang dilakukan oleh kaum Muslim tanpa Khalifah, dan semoga tahun depan Khalifah kita menjadi pemimpin pelaksanaan ibadah haji kita. [] Muhammad Abu Hisyam
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 1/6/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat