Haji Memperlihatkan Persatuan, Khilafah Pernah Menginstitusikannya

 Haji Memperlihatkan Persatuan, Khilafah Pernah Menginstitusikannya

MediaUmat Jurnalis Joko Prasetyo menyatakan bahwa dalam sejarah Islam, kesatuan umat tidak hanya hadir dalam aspek ritual ibadah seperti haji, melainkan juga pernah diupayakan secara nyata dalam ruang politik melalui institusi khilafah sebagai kepemimpinan umum yang menyatukan umat dalam satu otoritas hukum dan arah kebijakan.

“Dalam sejarah Islam, kesatuan itu tidak hanya hadir dalam ritual ibadah, tetapi juga pernah diupayakan dalam ruang politik melalui institusi khilafah, sebagai kepemimpinan umum yang menyatukan umat dalam satu otoritas hukum dan arah kebijakan,” ujarnya kepada media-umat.com, Rabu (27/5/2026).

Menurut Om Joy, sapaan akrab Joko Prasetyo, perbandingan antara ibadah haji dan konsep khilafah terlihat jelas dalam tujuannya menjaga keutuhan umat.

Ia menilai, sebagaimana ibadah haji menyatukan jutaan Muslim di Padang Arafah tanpa sekat nasionalisme, ras, maupun kelas sosial, khilafah dipahami sebagai bentuk ikhtiar politik agar umat tidak terpecah oleh batas-batas negara-bangsa (nation-state) modern.

Namun, tambahnya, kondisi dunia saat ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Penerapan paham nasionalisme dinilai telah memecah-belah negeri-negeri Muslim ke dalam puluhan negara bangsa yang saling membatasi. Hal ini dipertegas dengan kutipan Al-Qur’an Surat al-Anbiya ayat 92 yang menyatakan bahwa umat Islam pada hakikatnya adalah umat yang satu.

Selain sekat politik konvensional, Om Joy menyoroti tantangan fragmentasi baru di era kecerdasan buatan (AI) dan media sosial.

Menurutnya, algoritma digital saat ini turut memperkuat polarisasi dan perang opini dengan menggiring pengguna ke dalam ruang gema (echo chamber) berbasis kepentingan kelompok.

“Umat tidak lagi bergerak sebagai satu tubuh, tetapi tercerai dalam banyak arah dan banyak pusat gravitasi politik,” jelasnya.

Melalui momentum Idul Adha 1447 H ini, Om Joy mengingatkan, realitas persatuan di Arafah seharusnya menjadi cermin bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali arah hidup kolektif mereka, apakah bergerak menuju kesatuan yang diridhai atau semakin tenggelam dalam sekat dunia modern.

Sebagai penegas, ia menekankan, seluruh sekat politik dan identitas digital tersebut tidak akan berlaku pada hari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

“Tidak ada lagi bendera negara. Tidak ada lagi algoritma media sosial. Tidak ada lagi pencitraan digital. Yang tersisa hanyalah amal, iman, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *