Jika Rezim Iran Jatuh, Akankah Putin Kehilangan Asia Tengah?
Pada 27 April, kantor berita Vedomosti melaporkan: “Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arakchi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Rusia dan Presiden Vladimir Putin atas dukungan mereka terhadap republik tersebut selama pertemuan di St. Petersburg.”
Putin bertemu dengan Arakchi di St. Petersburg pada 27 April. Pihak Rusia, dalam pertemuan tersebut, diwakili oleh Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, Asisten Presiden Yuri Ushakov, dan Kepala Direktorat Intelijen Utama Staf Umum Igor Kostyukov. Sedang Arakchi didampingi oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharib-Abadi dan Duta Besar Iran untuk Moskow Kazem Dzhalali.
Putin menekankan bahwa Rusia akan mendukung Iran dan melakukan segala daya upaya untuk memastikan perdamaian dipulihkan di kawasan itu sesegera mungkin. Putin juga menyebutkan bahwa ia telah menerima pesan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dan mendoakan yang terbaik untuknya.
**** **** ****
Setelah Abbas Arakchi menolak bertemu dengan pejabat AS di Pakistan, Trump, untuk menghindari rasa malu lebih lanjut, dengan arogansi khasnya mengumumkan bahwa ia membatalkan perjalanan para pejabatnya ke Pakistan, dengan mengatakan bahwa jika Iran ingin berbicara, mereka cukup “menghubungi kami”.
Sejak dimulainya agresi militer oleh AS dan entitas Yahudi terhadap Iran, pemerintah Iran telah menunjukkan tekad dan penolakannya untuk tunduk pada tuntutan Amerika. Iran terus mengedepankan kebijakan luar negeri independen berdasarkan kepentingannya sendiri. Hubungannya dengan Rusia dan China menjadi contoh dari hal ini.
Segera setelah meninggalkan Pakistan, Arakchi mengunjungi Rusia, dan kemudian melakukan perjalanan ke China. Baik Rusia maupun China memahami apa yang akan terjadi jika AS melakukan perubahan pemerintahan di Iran dan memasang pemerintahan di bawah kendalinya. Itulah mengapa kedua negara tersebut melakukan segala yang mereka bisa untuk membantu mempertahankan rezim Iran saat ini.
Tidak seperti China, Rusia berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, ada kesepakatan diam-diam Putin dengan Trump mengenai nasib Ukraina. Sejak Trump menjabat, kita telah berulang kali melihat bagaimana Putin memberikan konsesi kepada kepentingan Amerika dalam banyak isu, dengan harapan dapat menyelesaikan perang demi kepentingan Rusia. Namun hingga hari ini, masalah Ukraina tetap belum terselesaikan, dan Putin menunggu kemenangan yang dijanjikan. Dan jika Putin sekarang mendukung Iran yang bertentangan dengan kepentingan Amerika, maka dia tidak akan pernah melihat kemenangan di Ukraina yang dijanjikan Trump kepadanya.
Di sisi lain, Putin bisa kehilangan Asia Tengah. Timur Tengah dipenuhi pangkalan militer Amerika. Pengecualiannya adalah Iran, Pakistan, Afghanistan, dan negara-negara Asia Tengah. Dalam proyek “Timur Tengah Raya”, AS memberikan peran khusus kepada Pakistan, Afghanistan, dan semua negara Asia Tengah.
Jatuhnya rezim Iran akan menjadi batu loncatan bagi AS untuk melancarkan invasi militer ke kawasan. Pertama, AS akan mendirikan pangkalan militer di wilayah Iran, kemudian akan mulai maju lebih dalam ke kawasan, menyebarkan kekacauan dan kekerasan hingga mencapai negara-negara Asia Tengah. Pada titik itu, Putin akhirnya akan kehilangan kendali atas negara-negara Asia Tengah, sementara AS akan melanjutkan ekspansi kolonialnya dan kemudian mengalihkan perhatiannya ke China.
Apakah Putin menyadari hal ini? Kemungkinan besar tidak. Negara mana pun yang ingin memengaruhi politik dunia dan membentuknya sesuai kepentingannya sendiri harus menimbulkan ancaman nyata terhadap kepentingan kekuatan terkemuka di panggung internasional, bukannya memastikan keamanannya dan memajukan kepentingannya—justru yang dilakukan Rusia adalah memberikan bantuan terhadap AS. Seluruh dunia tahu apa arti “jaminan Amerika”, yang jelas sama sekali tidak ada jaminan. Karena negara terkemuka hanya mengejar kepentingannya sendiri dan tidak memperhatikan negara-negara di bawahnya.
Wahai kaum Muslim! Keinginan Amerika dalam mengubah rezim di Iran tidak bertujuan untuk membangun perdamaian dan ketertiban di kawasan itu, dan tentu saja bukan untuk memberikan bantuan kepada kaum Muslim dalam menegakkan pemerintahan Islam. Bantuan Rusia kepada Iran bukanlah untuk kepentingan kaum Muslim, melainkan hanya untuk kepentingan Rusia. Jika kekuatan Eropa ikut campur di kawasan itu, mereka tidak akan membantu Islam maupun kaum Muslim. Rezim Iran sendiri berpegang teguh pada ideologi nasionalnya dan menentang Islam atau kaum Muslim di kawasan itu.
Hari ini, satu negara, yang diwakili oleh rezim Iran, telah menunjukkan bahwa melawan kekuatan terkemuka dunia, Amerika Serikat, bukan tidak mungkin. Dengan melakukan hal itu, Iran telah menepis mitos bahwa tidak mungkin untuk menentang Amerika Serikat. Bahkan sejumlah besar antek Amerika di kawasan itu tidak membantu Trump mengalahkan Iran. Allah SWT menunjukkan kepada kaum Muslim hari ini lebih dari sebelumnya bahwa semuanya bergantung pada kaum Muslim. Karena itu, kaum Muslim harus bergerak dengan kekuatannya sendiri untuk mendirikan negara Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah. Dan semoga Allah SWT menolongnya!
Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia:
﴿إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (TQS. Ar-Ra’d [13] : 11). [] Eldar Khamzin
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 24/5/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat