FIWS: Cina Bukan Pembela Umat, Hanya Bagian dari Kapitalisme Global

 FIWS: Cina Bukan Pembela Umat, Hanya Bagian dari Kapitalisme Global

MediaUmat – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menegaskan bahwa menjadikan Cina sebagai harapan pembela dunia Islam merupakan kekeliruan mendasar karena tetap berada dalam sistem kapitalisme global dan tidak berpihak pada kepentingan umat.

“Cina tidak bisa diharapkan menjadi bagian dari poros inti perlawanan terhadap kapitalisme global,” tegasnya dalam diskusi bertema Mbois: Pasca KTT Beijing, Keakuran China–AS, Gimmick atau Saling Mengancam? yang ditayangkan kanal YouTube Tabloid Media Umat, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, meskipun Cina kerap dipandang sebagai rival Amerika Serikat, secara ekonomi global negara tersebut tetap terintegrasi dalam sistem kapitalisme. Dengan kondisi itu, Cina tidak menempati posisi sebagai kekuatan yang berseberangan secara ideologis dengan sistem global yang ada.

“Cina sendiri tidak bisa dilepaskan dari kapitalisme global,” lanjutnya.

Farid menegaskan, keterlibatan Cina di kawasan dunia Islam tidak didasarkan pada kepentingan ideologis pembelaan umat, melainkan kepentingan pragmatis, terutama dalam aspek ekonomi dan energi.

“Bukanlah didasarkan kepada kepentingan ideologis, tetapi lebih kepada kepentingan pragmatis,” ujarnya.

“Iran merupakan salah satu sumber energi minyak yang murah untuk Cina,” sebutnya.

Selain itu, ia menyoroti kondisi kaum Muslim di dalam negeri Cina, khususnya di wilayah Xinjiang (Turkistan Timur), yang menurutnya menunjukkan bahwa Cina tidak berada dalam posisi sebagai pembela umat.

“Kaum Muslimin di sana dizalimi dan ditindas,” ungkapnya.

Khilafah sebagai Kekuatan Global Pembebas Umat dari Ketergantungan

Dalam konteks tersebut, Farid menegaskan, umat Islam tidak dapat menggantungkan harapan pada kekuatan global mana pun karena seluruhnya berada dalam kerangka sistem yang sama dan tidak berpihak pada kepentingan umat.

“Umat Islam harus membangun kekuatan global,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam perspektif fikih Islam, kekuatan global tersebut bukan sekadar kerja sama antarnegara, melainkan khilafah sebagai institusi politik yang menyatukan umat dalam satu kepemimpinan.

“Dalam fikih Islam, kekuatan global itu diwakili oleh negara Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah,” jelasnya.

Ia menegaskan, tanpa kekuatan global yang mandiri, umat Islam akan tetap berada dalam ketergantungan pada kekuatan besar dunia.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *