UIY: Penegakan Islam Tidak Menyingkirkan yang Lain
MediaUmat – Menyanggah pihak yang menyatakan penegakan Islam akan menyingkirkan penganut agama lain, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto menyatakan penegakan Islam tidak menyingkirkan yang lain.
“Ya dianggap memecah belah kan karena logikanya begini, kalau kita pakai Islam kita akan menyingkirkan yang lain. Ini adalah argumen yang paling sering dimajukan karena dengan cepat kemakan oleh orang lain. Padahal faktanya kan tidak begitu. Ketika kita menggunakan Islam itu tidak berarti menyingkirkan yang lain,” ungkapnya dalam siniar Islam & Hukum Keadilan Global bagi Semua Manusia, Sabtu (11/4/2026) di kanal YouTube UIY Official.
Kekeliruan berpikir ini, lanjutnya, semakin tampak ketika Islam dipahami sebatas representasi individu, bukan sebagai sistem hukum yang bersifat menyeluruh. Padahal, yang dimaksud dalam penerapan Islam adalah syariat Islam sebagai aturan yang mengikat seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
“Karena sebenarnya kita bicara Islam itu bukan Islam sebagai orang. Tetapi sistem Islam, syariat Islam, di mana syariat Islam itu memperlakukan di muka hukum apa yang disebut dengan equality before the law itu berjalan,” jelasnya.
Dengan kerangka tersebut, jelasnya, syariat Islam justru menempatkan semua individu dalam posisi yang sama di hadapan hukum. Tidak ada ruang bagi diskriminasi, karena hukum menjadi standar yang mengikat seluruh elemen masyarakat. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kehidupan sosial tidak mungkin berjalan tanpa aturan yang jelas dan tegas.
“Karena manusia itu tidak mungkin, masyarakat tidak mungkin kosong dari hukum. Pilihannya cuma dua, hukum Islam atau selain Islam,” tegasnya.
Dalam pandangan UIY, persoalan yang kerap luput dipahami adalah bahwa syariat Islam tidak ditujukan secara eksklusif bagi umat Islam semata. Sebaliknya, ia hadir sebagai sistem yang membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia, sebagaimana prinsip rahmatan lil ‘alamin.
“Kalau hukum Islam memang itu bersumber dari Islam. Tetapi ini sesungguhnya untuk manusia, untuk rahmatan lil ‘alamin itu. Nah ini yang luput tidak pernah dijelaskan atau jarang dijelaskan. Akibatnya kemudian ketika menggunakan syariat Islam seolah-olah itu hanya untuk orang Islam,” paparnya.
Kesalahpahaman ini, menurutnya, tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk cara pandang yang bias terhadap sistem lain, sehingga masyarakat cenderung menerimanya tanpa kritik yang setara. Bahkan, sistem di luar Islam justru tidak dipersoalkan meski memiliki karakter ideologis yang sama sebagai seperangkat aturan hidup.
“Nah makanya kemudian mereka lebih demen kepada kapitalisme. Sebenarnya itu sama logikanya. Kalau kapitalisme berarti ini hanya hukum untuk pemeluk kapitalis, kan begitu. Sementara yang sosialis tidak. Islamnya tidak gitu? Kan juga sama,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyinggung realitas bahwa sistem kapitalisme dalam praktiknya tidak pernah benar-benar netral, melainkan cenderung berpihak pada kelompok tertentu, terutama pemilik modal, yang justru menunjukkan adanya ketimpangan dalam penerapannya.
“Terutama untuk pemilik modal malah ya,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat