PKAD: Ancaman Deforestasi Masif di Merauke demi Food Estate
MediaUmat – Analis Senior dari Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan menilai penebangan hutan yang dilakukan di Merauke, Papua, sebagai ancaman deforestasi masif demi food estate.
“Ancaman deforestasi masif di Merauke demi food estate,” ujarnya dalam video Food Estate Merauke Disorot: Benarkah Rugikan Masyarakat dan Lingkungan? di kanal YouTube Khilafah News, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, Papua bukan tanah kosong, tapi di Merauke jutaan hektare hutan sedang digusur habis-habisan atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate.
“Benarkah ini demi ketahanan pangan atau justru awal bencana ekologis maha dahsyat di tanah Papua?” tanyanya retoris.
Fajar menggambarkan kengerian yang sedang terjadi di ujung Timur Indonesia ini.
“Proyek Strategis Nasional (PSN) Food Estate ini, menargetkan lahan seluas lebih dari 2 juta hektare. Sebuah angka yang fantastis sekaligus mengerikan. Rinciannya, 1 juta hektare untuk cetak sawah, dan sekitar 500 ribu hektare untuk perkebunan tebu, dan 500 ribu lagi untuk bioetanol,” getirnya.
Narasi yang dibangun, lanjut Fajar, adalah swasembada, tapi faktanya di lapangan adalah deforestasi yang masif.
“Data dari pantauan Satya Bumi, menunjukkan bahwa per Januari 2026 saja, di Distrik Jagebog dan Tanah Miring, pembukaan lahan sudah mencapai 31 ribu hektare dengan 15 ribu hektare di antaranya adalah deforestasi murni di Wanam. Pembukaan lahan 10 ribu hektare telah melenyapkan 7 ribu hektare hutan. Bayangkan coba!” serunya getir.
Dibongkar Paksa
Fajar memandang, benteng terakhir hutan hujan tropis sedang dibongkar paksa.
“Namun yang lebih menyakitkan adalah nasib masyarakat adat Malind. Bagi mereka hutan bukanlah lahan kosong yang menunggu dieksploitasi. Hutan adalah bank alami, tempat sumber makanan, obat-obatan dan sekaligus identitas budaya mereka,” jelasnya.
Konflik Lahan
Konflik lahan, jelas Fajar, pecah di berbagai titik seperti yang dialami marga Kwipalo yang lahannya diserobot tanpa izin yang jelas.
“Tidak hanya kehilangan tanah, mereka kini harus menghadapi pencemaran air di Kali Yob yang berubah keruh seperti air susu, membuat mereka kehilangan akses air minum dan pangan lokal,” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat