UIY: Gugurnya Prajurit TNI, Bukti Ketidakjelasan Pemerintah
MediaUmat – Menyoroti gugurnya tiga prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian Unifil di Lebanon Selatan, Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai insiden tersebut merupakan dampak nyata dari ketidakjelasan posisi dan kegamangan pemerintah Indonesia dalam memandang peta konflik di Timur Tengah.
“Ini menunjukkan ada satu masalah besar yang saat ini ada di dalam pemerintahan di negeri ini, yaitu ketidakjelasan posisi,” ujarnya dalam Fokus: Prajurit TNI terbunuh, di Mana BoP? pada Ahad (5/4/2026) di kanal YouTube UIY Official.
Menurut UIY, ketidakjelasan ini kian nyata dari sikap pemerintah yang mengambil peran dalam Board of Peace (BoP) bentukan Donald Trump. Padahal, agenda awal dewan tersebut justru kontradiktif dengan misi perdamaian, yakni melakukan serangan militer terhadap Iran.
“Bagaimana kita bisa begitu percaya kepada orang yang sebenarnya, bahkan sebelum memutuskan menyerang Iran, sudah sangat kontroversial,” herannya.
Ia lantas mengingatkan rekam jejak Trump yang pernah menyatakan keinginan menguasai infrastruktur minyak Venezuela serta ambisi mengambil alih Greenland dari Denmark dengan ancaman tarif perdagangan.
“Dan yang pasti, dia (Trump) tidak pernah sedikit pun keberatan terhadap genosida yang dilakukan oleh Israel di Gaza,” imbuh UIY.
Ironi Tanpa Kecaman
Lebih lanjut UIY mengungkapkan, keheranannya atas ketiadaan kecaman keras dari pemerintah Indonesia terhadap Israel, pihak yang dianggap bertanggung jawab atas tewasnya prajurit TNI. Menurutnya, pemerintah justru terjebak dalam prosedur birokrasi internasional yang tidak efektif.
“Satu sisi kita berduka atas meninggalnya prajurit, tapi di sisi lain kita tidak mengecam pihak yang menimbulkan kematian itu. Paling jauh hanya meminta PBB melakukan investigasi. Ini adalah ironi,” ujar UIY.
Ia menambahkan, keterlambatan respons pemerintah dalam menyatakan bela sungkawa menunjukkan adanya masalah besar dalam cara berpikir rezim saat ini.
Desakan Penarikan Pasukan
Untuk itu, UIY memandang keberadaan TNI di bawah bendera BoP saat ini sudah pada tahap membahayakan. Mengingat eskalasi konflik antara Israel, AS, dan Iran yang meningkat, ia menyebut posisi pasukan perdamaian di Lebanon Selatan sangat rentan.
“Ini bukan lagi sekadar misi perdamaian. Mengirim pasukan tanpa peralatan tempur lengkap ke wilayah di mana musuhnya tidak mengenal etika, itu adalah langkah yang mencelakakan diri,” ujarnya seraya mendesak pemerintah segera menarik pasukan Garuda sebelum jatuh korban lebih banyak.
Kekacauan Global dan Solusi Persatuan
Terakhir, UIY membedah bahwa tata dunia saat ini telah bergeser dari rule-based order (tata dunia berbasis aturan) menjadi power-based order (tata dunia berbasis kekuatan). Dalam kondisi ini, negara-negara Muslim sering kali hanya menjadi objek atau bahkan pendukung kepentingan imperialis.
Ia mencontohkan bagaimana negara-negara Teluk yang memiliki kekayaan finansial justru dianggap membiayai perang yang menyengsarakan sesama Muslim.
UIY menegaskan, satu-satunya solusi empirik dan syar’i untuk menghentikan “kekonyolan” ini adalah melalui persatuan umat Islam secara global.
“Momentum ini harus memunculkan kesadaran fundamental. Kita tidak bisa berharap pada lembaga internasional yang dirancang bukan untuk Islam. Umat harus bersatu untuk mewujudkan kekuatan yang mampu melindungi harkat, martabat, dan wilayahnya sendiri,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat