Ramadhan Adalah Mihrāb untuk Beribadah dan Medan Pertempuran
Allah SWT berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa atas kalian.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 183).
Dan beberapa ayat kemudian Allah SWT berfirman:
﴿كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ﴾
“Perang telah diwajibkan atas kalian.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 216).
Untuk menghubungkan ketaatan kepada Allah (swt) dalam jiwa dengan ketaatan kepada-Nya, Yang Maha Tinggi, dalam mendukung agama-Nya.
Dua ayat agung tersebut menggabungkan antara jihad melawan hawa nafsu dan jihad melawan musuh, dan antara mihrāb Ramadhan dan senjata jihad, dengan jelas menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan puasa, shalat, dan ibadah, serta bulan jihad, penaklukan, dan kemenangan. Ini adalah bulan yang menyatukan pengabdian spiritual dengan berbagai bentuk jihad. Ini adalah mihrāb untuk menyucikan jiwa melalui shalat dan qiyām (shalat malam), dan medan untuk memerangi ketidakadilan, mendukung kaum tertindas, dan melancarkan jihad dengan kata-kata dan harta benda. Ini adalah perkemahan keimanan, tempat kita mempersiapkan hati untuk mendukung kebenaran, dan menyucikan niat agar layak mendapatkan kemenangan. Di bulan yang diberkahi ini, beberapa pertempuran terbesar Islam terjadi, di mana kemenangan menjadi sekutu kaum Muslim, seperti Perang Badar, yang merupakan titik balik penting antara kebenaran dan kebatilan, setelah itu kaum Muslim memperoleh kekuatan dan kekuasaan. Contoh lain adalah Penaklukan Makkah, di mana panji-panji paganisme tumbang di Tanah Suci dan panji-panji Islam dikibarkan. Di bulan yang diberkahi ini, kaum Muslim menang atas bangsa Mongol, di Ain Jalut dan menaklukkan Andalusia. Banyak pertempuran dan penaklukan lain yang berdampak besar pada kehidupan kaum Muslim terjadi di Bulan yang diberkahi ini.
Bulan ini adalah bulan di mana semua kebenaran, akhlak, dan hukum Al-Qur’an dinyatakan, sebagaimana firman Allah SWT:
﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ﴾
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya Al-Quran diturunkan, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang salah).” (TQS. Al-Baqarah [2] : 185).
Di dalam Ramadhan, terkandung semua ciri kebaikan, kemurahan hati, dan altruisme. Kita menjadi lebih dekat kepada Allah SWT melalui perbuatan ketaatan dan ibadah siang dan malam, dan menjadi lebih dekat kepada ciptaan Allah SWT, melalui kebaikan, pertolongan, dan kasih sayang.
Di dalam Ramadhan, menegaskan bahwa puasa adalah ritual yang menyatukan kaum Muslim dari timur hingga barat, mengingatkan mereka bahwa Tuhan mereka satu, agama mereka satu, arah shalat mereka satu, dan keprihatinan mereka satu. Namun, sejak runtuhnya Khilafah, kaum Muslim telah hidup dalam perpecahan dan fragmentasi, menderita ketidakadilan, penindasan, penghinaan, dan penaklukan, bahkan dalam menentukan awal atau akhir Ramadhan! Kondisi kaum Muslim semakin memburuk; berhukum dengan hukum Allah masih terhambat, dan kita masih dipaksa tunduk pada sistem buatan manusia yang mengharamkan apa yang halal dan menghalalkan apa yang haram, menyebarkan kerusakan dan menggusur penduduk. Darah kaum Muslim ditumpahkan, seperti yang kita lihat di Gaza, Kashmir, China, dan di penjara-penjara para penindas di negeri-negeri Islam, bahkan di setiap tempat kaum Muslim dianiaya, lemah, dan tanpa pelindung atau penolong.
Pada saat yang sama, umat merasa bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkannya dari kesulitan yang dihadapinya saat ini, karena semua orang telah bersekongkol melawannya dan memangsa dagingnya, dan apa yang disabdakan Nabi saw telah terjadi: bahwa bangsa-bangsa akan menyerangnya seperti orang-orang lapar yang menyerbu berebut makanan di wadahnya.
Namun keselamatan, perubahan, dan pencapaian kebenaran serta perwujudan agama tidak akan datang melalui keinginan dan harapan, meskipun mengharapkan kebaikan adalah hal yang baik. Juga, hal itu tidak akan datang hanya melalui doa saja, meskipun kita sangat membutuhkan permohonan dan doa. Doa memang diperlukan, tetapi untuk dikabulkannya ada syaratnya, dan di antara syaratnya adalah memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya saw. Allah SWT berfirman:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 186).
Islam hidup di hati manusia, Alhamdulillah, dan keinginan serta tindakan untuk menaati Allah ada dalam diri banyak orang, bahkan mereka tertarik pada berbagai hal yang berkaitan dengan agama, mulai dari menyeru kepada kebaikan amal, ibadah dan perkara-perkara sunnah, termasuk membaca dan menghafal Al-Qur’an, memerangi bid’ah, menyeru kepada akhlak, membantu sesama, serta kebajikan, nilai-nilai, moral dan perilaku berbau ketaatan agama lainnya, baik secara individu maupun kelompok. Mereka percaya bahwa dengan melakukan hal itu mereka telah memenuhi kewajiban mereka dan membebaskan diri di hadapan Allah, namun mereka tidak merasa terbebani oleh tanggung jawab lebih lanjut dalam proses perubahan dan pembentukan masyarakat Islam di luar apa yang telah mereka lakukan. Benar, bahwa apa yang telah kita sebutkan itu diwajibkan oleh hukum Islam dan mendatangkan pahala, namun hal itu tidak membebaskan seseorang dari kewajiban untuk berupaya menegakkan agama. Sesungguhnya, siapa pun yang tidak berupaya menegakkan hukum Allah di bumi sesuai dengan ketentuan syariah dianggap lalai.
Di bulan Ramadhan, bulan yang dicintai Allah dan di dalamnya Allah membukakan pintu-pintu kebaikan bagi kaum Muslim, membelenggu setan dan melipatgandakan pahala bagi mereka, sehingga kaum Muslim hendaknya tidak membatasi ketaatan mereka hanya pada apa yang telah disebutkan, yaitu puasa, shalat, zakat, dan lainnya, tetapi hendaknya mereka melakukan seperti yang dilakukan para Shahabat dan Tabi’in sebelum mereka menggabungkan amalan-amalan wajib satu sama lain sehingga ibadah dan ketaatan kepada Allah menjadi sempurna dan pahalanya berlipat ganda. Oleh karena itu, hari ini mereka harus menambahkan ketaatan mereka kepada Allah dengan ketaatan untuk menyeru dan berupaya menegakkan pemerintahan dan hukum Allah, yang merupakan salah satu tindakan ketaatan kepada Allah yang paling spesifik dan dicintai, yaitu ketaatan yang dengannya semua tindakan ketaatan lainnya terpenuhi dan dengannya dosa-dosa dicegah. Ketaatan inilah yang melindungi kaum Muslim dan tanah air mereka. Ketaatan yang dengannya kita dapat meninggikan agama Allah, menjalankan semua perintah-Nya, serta menyebarkan kebaikan Islam ke seluruh bumi dan seluruh umat manusia. Ketaatan yang dengannya Allah SWT melindungi kita dari kejahatan orang Yahudi, Amerika, dan semua kekuatan kekafiran. Inilah ketaatan yang membawa kebaikan bagi para pengikutnya dan juga bagi orang lain. Inilah ketaatan yang tanpanya tidak ada kebaikan.
Ramadhan bukanlah sekadar perhentian sementara dalam kalender tahunan, bukan pula musim spiritual yang pengaruhnya berakhir seiring berjalannya hari-harinya, melainkan sebuah momen penting dalam kehidupan seseorang; sebuah kesempatan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menata kembali prioritas dan urusan mereka, memperbaiki hati mereka, mengoreksi arah hidup mereka, dan memulai awal yang baru yang lebih dekat kepada-Nya. Tidak ada amal perbuatan yang lebih menyenangkan Allah daripada berupaya menegakkan agama-Nya dan meninggikan firman-Nya. Hal ini hanya dapat dicapai melalui perjuangan serius bersama kelompok orang-orang beriman yang mengikuti teladan Nabi saw dan berupaya menegakkan kembali hukum Allah di bumi serta mendirikan Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah, yang waktunya telah tiba, sebagaimana ditunjukkan oleh kenyataan. Berbahagialah orang-orang yang menyaksikannya dan mengabdi dalam perjuangan sebagai prajuritnya.
Wahai kaum Muslim yang beriman: Umatmu telah melalui cobaan berat dan banyak kesulitan sepanjang sejarah dan di bulan Ramadhan, namun umatmu tetap teguh, tabah, dan berjaya berkat Allah dan keberadaan negara yang kuat yang memerintah berdasarkan hukum Allah. Umat bagaikan emas murni; semakin sering terkena api, semakin berkilau. Demikianlah umat Al-Qur’an harus kembali, betapapun beratnya musibah dan kesulitan yang dihadapi, serta betapapun banyaknya kekuatan jahat yang berkumpul melawannya. Allah SWT berfirman:
﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾
“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.” (TQS. Ali Imran [3] : 139).
Jadikan Ramadhan ini sebagai saksi yang meringankan bagimu, bukan saksi yang justru memberatkan bagimu. Jadikanlah bulan Ramadhan ini bulan kemenangan dan pemberdayaan, bukan bulan ketidakberdayaan dan kelemahan.
Sumber: alraiah.net, 25/2/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat