UIY: BoP, Pergeseran Berbahaya Menuju Tata Dunia Berbasis Kekuatan
MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai pembentukan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandai pergeseran berbahaya dari tata dunia berbasis aturan (rules-based order) menjadi berbasis kekuatan (power-based order).
“Board of Peace itu sesungguhnya adalah konfirmasi terhadap pergeseran itu,” ujarnya dalam Fokus bertajuk Board of Peace: Akankah Membawa Perdamaian? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (1/2/2026).
Menurut UIY, hal ini berisiko memicu ketidakstabilan global baru. Sebab hubungan internasional ditentukan oleh siapa yang paling kuat secara militer dan ekonomi, bukan oleh hukum internasional atau keadilan.
Adalah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump yang merasa paling kuat di antara banyak aktor global berebut pengaruh. Sehingga, kata UIY, AS merasa pula bisa bertindak semaunya meski harus mengancam atau menyerang secara sepihak ke negara lain.
Pergeseran ini bakal memicu fragmentasi global dan meningkatkan risiko konflik sehingga memerlukan kewaspadaan tinggi. “Tatanan dunia yang berbasis aturan saja kerap terdapat ketimpangan dan pelanggaran, apalagi jika kini bergeser kepada tatanan dunia berbasis kekuatan,” ucap UIY.
Sebutlah lebih dari 33 resolusi DK PBB yang menuntut Israel menghentikan pendudukan dan kejahatan perang, diacuhkan total tanpa sanksi apa pun. Penyebab utamanya adalah hak veto AS yang selalu menggagalkan tindakan internasional terhadap Israel.
Ketidakadilan pun makin nyata ketika AS sepihak menyerang Venezuela, hendak mencaplok Greenland, dan memaksa Iran membatasi jangkauan rudal (seperti Emad/Khorramshahr) dari 2.500 km menjadi maksimal 300 km.
Untuk ditambahkan, jangkauan 300 km dimaksud akan menghilangkan kemampuan rudal Iran untuk mencapai Israel atau pangkalan militer AS di Timur Tengah yang jaraknya lebih dari 1000 km.
BoP Bermasalah
“Dari cara pandang itu saja sudah terlihat bahwa Board of Peace ini sudah bermasalah sejak dari awal,” sambung UIY.
Apalagi, statuta BoP tidak memuat klausul mengenai kemerdekaan Palestina, padahal hal itu adalah kepentingan krusial bagi rakyat di sana. “Dalam statuta Board of Peace itu sendiri sama sekali tidak disinggung freedom, kemerdekaan bagi rakyat Palestina. Bahkan tidak disinggung nasib orang-orang Palestina,” ungkapnya.
Syarat BoP bahkan lebih keras. Di antaranya Gaza wajib demiliterisasi total dan perwakilan Palestina dilarang masuk dalam keanggotaan. “Mereka ingin menghentikan sama sekali, apa yang kita sebut perjuangan untuk mengembalikan wilayah Palestina itu ke tangan kaum Muslimin,” jelas UIY.
Praktis, dewan bentukan Trump ini lebih tepat disebut Board of Trump bukan Board of Peace. “Ini lembaga praktis lebih tepat disebut bukan Board of Peace tapi Board of Trump,” tandas UIY, yang berarti BoP tak lebih dari instrumen kepentingan Trump dan Israel bukan Palestina.
Karenanya, ia menyayangkan partisipasi beberapa negara, terutama Indonesia, dalam keanggotaan BoP. Sebab selain memerlukan kewaspadaan tinggi juga dianggap mengabaikan mandat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan dan nilai-nilai keadilan.
Islam
“Nah, di situlah Islam itu hadir mengatur dunia dengan aturan,” tegasnya, menyinggung aturan syariat Islam yang secara empiris selama berabad-abad menata dunia dengan prinsip rule base order.
Fakta tersebut, kata UIY, telah diakui oleh banyak sejarawan terkenal semisal Karen Armstrong yang menggambarkan Andalusia (Spanyol Islam) sebagai contoh historis keharmonisan antaragama yang luar biasa, yang berbeda dengan situasi di Eropa Kristen pada masa yang sama.
“Orang Yahudi itu menikmati abad keemasannya justru di bawah Islam. Nah, itulah rule based order,” sebut UIY.
Dengan kata lain, tidak harus memakai dalil, jika memahami betul pentingnya negara adidaya (the ruling power) yang akan mengatur dunia ini dengan aturan yang benar maka umat pasti menginginkan kekuasaan Islam.
“Tidak bisa tidak, harus hadir kembali the ruling power, yang mengatur dunia ini dengan Islam. Itulah rahmatan lil alamin,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat