MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan rencana pendirian negara Yahudi semula akan di Argentina atau Uganda tetapi agar mendapat legitimasi keagamaan maka dialihkan ke Palestina.
“Theodor Herzl menggeser ke Palestina oleh karena dia ingin mendapatkan legitimasi keagamaan. Nah, lalu Theodor Herzl mikir, alangkah baiknya kalau negara Yahudi yang dicita-citakan bukan di Argentina atau Uganda, tapi di Palestina supaya sekaligus dapat legitimasi keagamaan,” ungkapnya dalam Mbois: Kelakuan Argentina di kanal YouTube UIY Official, Sabtu (18/7/2026).
UIY mengungkapkan, sebelum pilihan itu beralih ke Palestina, terdapat dua wilayah yang lebih dahulu dipertimbangkan sebagai lokasi pendirian negara Yahudi, yakni Argentina dan Uganda. Dengan demikian, Palestina bukanlah tujuan awal proyek tersebut.
“Sebelumnya itu ada dua negara yang dituju. Jadi bukan Palestina awalnya, tapi Argentina dan Uganda. Nah, kemudian yang menarik adalah bahwa Theodor Herzl menggeser ke Palestina,” jelasnya.
Menurut UIY, gagasan Herzl pada mulanya justru mendapat penolakan dari kalangan Yahudi sendiri, terutama mereka yang telah menetap di Eropa Barat. Mereka merasa tidak memerlukan negara sendiri karena telah menikmati kehidupan yang mapan.
“Pikiran itu ditolak oleh orang Yahudi sendiri, khususnya mereka yang ada di Eropa Barat. Mengapa? Karena mereka merasa tidak punya alasan untuk punya negara sendiri. Ngapain? Mereka sudah hidup makmur,” tuturnya.
UIY menambahkan, penolakan tersebut juga tidak lepas dari ketiadaan pijakan historis maupun landasan keagamaan yang dapat dijadikan dasar berdirinya negara Yahudi.
“Lagi pula memang tidak pernah ada catatan sejarah orang Yahudi itu punya negara sendiri. Tidak ada juga perintah di dalam kitab suci mereka, di dalam Taurat itu, yang boleh menjadi dasar berdirinya negara Yahudi itu,” tegasnya.
Menurut UIY, pertimbangan memperoleh legitimasi keagamaan itulah yang mendorong Herzl mengalihkan proyek pendirian negara Yahudi ke Palestina. Selain itu, wilayah tersebut juga dipandang memiliki nilai religius sebagai pusat ibadah kaum Yahudi.
Untuk menggambarkan kedudukan Palestina dalam pandangan Yahudi, UIY mengibaratkannya sebagai pusat kesucian mereka.
“Jadi Ka’bahnya Yahudi itu, Ka’bahnya orang Yahudi,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat