UIY: Pernyataan JK Bukan Penistaan Agama, Melainkan Fakta Sejarah

MediaUmat – Menanggapi polemik yang muncul atas pernyataan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla tentang perang atas nama agama, Cendekiawan Muslim Ustadz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, apa yang disampaikan JK bukanlah penistaan agama, melainkan fakta sejarah yang telah tercatat dalam perjalanan peradaban manusia.

“Apa yang dikatakan oleh Pak Jusuf Kalla itu benar karena memang dia menceritakan fakta,” ujarnya dalam program Fokus to The Point bertema Jusuf Kalla dan Narasi Jihad: Mengapa Ramai Dipersoalkan? yang ditayangkan kanal YouTube UIY Official, Sabtu (16/5/2026).

Menurut UIY, sejarah mencatat bahwa agama kerap dijadikan legitimasi dalam berbagai peperangan dan konflik besar dunia. Karena itu, fakta sejarah tersebut seharusnya dipahami secara proporsional, bukan dipelintir menjadi tuduhan penistaan agama.

“Perang Salib itu merupakan satu peristiwa yang bahkan pasti masuk di dalam apa yang disebut sejarah dunia,” jelasnya.

Ia menilai, kontroversi muncul karena adanya upaya membangun framing seolah-olah JK sedang menyerang agama. Padahal, yang disampaikan hanyalah fakta sejarah yang telah dikenal luas.

“Yang salah adalah yang berusaha mem-framing itu seperti seolah-olah Pak Jusuf Kalla itu sedang melakukan penistaan terhadap agama,” tegasnya.

Dalam penjelasannya, UIY menegaskan, keberadaan perang dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari konsep jihad.

Menurutnya, jihad merupakan bagian dari ajaran Islam untuk menghadapi hambatan terhadap tegaknya kebenaran dan dakwah.

“Jihad itu merupakan bagian dari ajaran Islam,” tegasnya.

Menurut UIY, Islam menghendaki terwujudnya kehidupan yang membawa rahmat bagi seluruh manusia. Namun, dalam kenyataannya selalu ada kekuatan yang menghalangi terwujudnya kebaikan karena kepentingan kekuasaan dan hegemoni.

“Jihad itu adalah cara yang dituntunkan oleh Islam untuk menghadapi atau menghilangkan hambatan fisik di dalam amar makruf nahi mungkar atau di dalam dakwah,” ujarnya.

Menurut UIY, ketika kekuatan tertentu berubah menjadi penghalang bagi tegaknya kebaikan, Islam memiliki ajaran untuk menghadapinya.

“Ketika itu menjadi penghalang maka Islam mempunyai ajaran untuk menghadapi hambatan fisik itu,” tegasnya.

Menurut UIY, realitas Palestina saat ini menunjukkan jihad bukan sekadar pembahasan sejarah atau konsep teoritis. Agresi dan pembantaian yang terus berlangsung terhadap rakyat Palestina menjadi bukti bahwa kezaliman tidak selalu berhenti hanya dengan seruan perdamaian.

“Kalau orang diperlakukan seperti itu apa yang harus dilakukan? Pasti melawan. Dan melawan dengan apa? Wong itu kekerasan. Pasti melawan dengan kekerasan pula. Itu yang disebut dengan jihad difa’i (mempertahankan diri),” terangnya.

UIY menilai tidak logis jika agama dituntut menyelesaikan kezaliman, tetapi tidak diberi ruang untuk menghadapi pelakunya. Apalagi, banyak penjajahan dan agresi dilakukan dengan kekuatan nyata, bukan sekadar narasi.

“Bagaimana agama akan bisa menyelesaikan masalah yang masalah itu dilakukan oleh orang yang selalu menggunakan kekerasan?” katanya.

“Tidak logis kalau kemudian agama itu dibilang jangan menggunakan kekerasan,” lanjutnya.

Meski demikian, UIY menegaskan, Islam tidak pernah membenarkan kekerasan tanpa batas. Syariat jihad memiliki aturan yang jelas, termasuk larangan melampaui batas dan perlindungan terhadap pihak yang tidak terlibat dalam peperangan.

“Perang itu ada tetapi juga ada batas,” tegasnya.

Ia kemudian mengutip ketentuan syariat yang memerintahkan kaum Muslim memerangi pihak yang memerangi mereka, namun tetap melarang tindakan berlebihan.

“Perangilah oleh kamu sekalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas,” tuturnya.

UIY mempertanyakan narasi kasih sayang yang tidak diwujudkan dalam pembelaan terhadap korban kezaliman. Menurutnya, diam terhadap pembantaian rakyat Palestina justru bertentangan dengan makna kasih sayang itu sendiri.

“Kalau sekarang penguasa-penguasa negeri Islam, panglima-panglima perang negeri Islam, ada umat Islam yang dibunuh di Palestina lalu mendiamkan. Di mana letak kasih sayang?” tandasnya.

Karena itu, UIY menegaskan, membela pihak yang dizalimi merupakan bagian dari kasih sayang yang diajarkan Islam. Kasih sayang, menurutnya, tidak cukup diwujudkan dalam seruan moral semata.

“Jadi melindungi manusia dengan perang itu adalah juga bagian kasih sayang,” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: