MediaUmat – Di tengah mencuatnya isu sektarian dalam konflik dunia Islam, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan konflik tersebut hakikatnya adalah konflik politik, bukan agama.
“Berarti kan ini bukan soal agama, ini soal politik,” ujar UIY dalam siniar Isu-isu Sektarian dalam Pergolakan Dunia Islam #LIVEFOKUS yang ditayangkan kanal YouTube UIY Official, Ahad (26/4/2026).
UIY menjelaskan, konflik di dunia Islam kerap dipersepsikan secara keliru dengan menempatkan perbedaan mazhab sebagai faktor utama, padahal di baliknya terdapat kepentingan politik yang lebih dominan.
“Perbedaan itu memang boleh disebut sebagai keniscayaan,” jelasnya.
Ia menegaskan, perbedaan dalam Islam merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan. Namun sering kali disikapi secara tidak proporsional sehingga justru memicu pertentangan.
“Ikhtilaf itu pada masalah furu’, kalau penyimpangan itu tidak bisa ditolerir,” tambahnya.
Menurutnya, kegagalan memahami batas antara perbedaan yang dibenarkan dan penyimpangan yang harus ditolak membuat umat mudah terjebak dalam konflik yang tidak pada tempatnya.
“Yang harusnya menjadi lawan dijadikan kawan, yang harusnya menjadi kawan dijadikan lawan,” ungkapnya.
UIY menilai, cara pandang yang keliru terhadap isu sektarian pada akhirnya memengaruhi arah keberpihakan umat, sehingga tidak lagi berpijak pada kepentingan Islam secara hakiki.
“Musuh-musuh Islam itu ngerti titik-titik kritis yang bisa dimanfaatkan untuk melemahkan umat,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan, perbedaan internal umat kerap dimanfaatkan oleh pihak luar sebagai pintu masuk untuk memecah belah dan memperpanjang konflik.
Sejalan dengan itu, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhyiddin Junaidi menilai, isu sektarian memang kerap dimunculkan karena efektif dalam menyulut konflik di tengah umat.
“Fanatisme golongan itu lebih diutamakan daripada kebenaran itu sendiri,” tegasnya.
Kiai Muhyiddin menambahkan, isu sektarian menjadi alat yang murah tetapi berdampak besar dalam memicu pertentangan.
“Menimbulkan isu sektarianisme itu adalah modal yang paling murah karena dia sangat mudah menyulut konflik dan peperangan,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan, penggunaan isu sektarian bukan hal baru, melainkan pola lama yang terus berulang dalam sejarah.
“Sektarianisme terbukti dalam sejarah merupakan alat yang senantiasa digunakan oleh para penjajah dan musuh Islam untuk menciptakan konflik,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat