Pada 28 April 2026, UEA mengumumkan penarikan diri dari OPEC dan aliansi OPEC+, yang berlaku efektif mulai 1 Mei 2026. Menteri Energi UEA, Suhail bin Faraj Al Mazrouei, mengatakan kepada Reuters, “Penarikan diri ini akan memberi UEA lebih banyak fleksibilitas untuk memenuhi permintaan global di masa depan akan minyak mentah dan petrokimia.” Ia menambahkan, “Kita menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana cadangan strategis minyak mentah semakin menipis hingga tingkat yang mengkhawatirkan.”
Kantor Berita Emirates (WAM) menyatakan: “Dalam jangka pendek, fluktuasi geopolitik terus berlanjut melalui gangguan di Teluk Arab dan Selat Hormuz, yang memengaruhi dinamika pasokan, sementara tren dasar menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan dalam permintaan energi global dalam jangka menengah dan panjang.”
OPEC melaporkan bahwa produksi aktual UEA pada bulan Februari adalah 3,39 juta barel per hari, turun menjadi 1,908 juta barel per hari pada bulan Maret.
Sementara itu, ADNOC (Abu Dhabi National Oil Company), perusahaan minyak milik pemerintah Abu Dhabi, mengumumkan bahwa kapasitas produksinya saat ini adalah 4,85 juta barel per hari dan menargetkan untuk meningkatkannya menjadi 5 juta barel per hari pada tahun 2027. UEA memiliki cadangan minyak yang diperkirakan sekitar 111 miliar barel, dan UEA termasuk di antara 6 negara teratas di dunia dalam hal cadangan minyak.
Langkah ini akan melemahkan kohesi OPEC dan kemampuannya untuk mengelola harga secara global, serta akan membuat pasar lebih bergejolak dengan potensi peningkatan pasokan minyak di luar kerangka koordinasi kolektif.
Pada tahun 2016, perluasan OPEC diumumkan dengan memasukkan Rusia dan disebut aliansi OPEC+, yang saat ini terdiri dari 22 negara. Amerika berada di balik pengumuman ini, setelah membujuk Rusia melalui Arab Saudi, untuk mengendalikan produksi dan harga minyak, menaikkan dan menurunkannya sesuai kebutuhan.
Dengan demikian, UEA secara resmi menyatakan bahwa UEA tidak ingin terikat oleh kuota OPEC dan bermaksud untuk memproduksi sesuai dengan kepentingannya sendiri. Langkah ini merupakan tamparan keras bagi Arab Saudi, yang mendominasi dan mengelola organisasi tersebut atas nama Amerika Serikat. Perlu dicatat bahwa UEA bersekutu dengan Inggris dan melakukan tindakan atas nama Inggris, seperti yang ditunjukkan di Yaman, Libya, Sudan, dan tempat lain (hizb-ut-tahrir.info, 30/4/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat