MediaUmat – Kisah hidup Abah Rastam, seorang lelaki tua renta dengan anak down syndrome, yang begitu sulit mencari makan untuk diri dan anaknya hingga terkadang mendapat sisa nasi dari belas kasihan tetangga, menurut Narator Khilafah News, menunjukkan ruang hidup yang semakin sempit dan kesempatan kerja yang makin menjauh bagi mereka yang tak lagi muda dan tak lagi kuat.
“Apa yang dialami Abah Rastam bukan kisah kemalasan. Ia tidak memilih karena hidup tidak lagi memberi pilihan sekaligus menunjukkan ruang hidup yang semakin sempit dan kesempatan kerja yang makin menjauh bagi mereka yang tak lagi muda dan tak lagi kuat,” ulasnya pada video Lapar tapi Tak Masuk Kamera, Bagaimana Nasib Mereka? di kanal YouTube Khilafah News, Selasa (21/4/2026).
Di luar sana, lanjutnya, angka-angka mungkin bicara tentang pertumbuhan, tentang grafik yang menanjak. Namun di rumah kecil Abah Rastam, waktu berjalan dengan ukuran yang berbeda.
“Satu hari berarti satu perjuangan untuk makan dan Abah tidak sendiri. Banyak yang hidup seperti ini. Tak terlihat, tak terdengar, tak sempat masuk berita. Mereka bekerja jika mampu, bertahan jika terpaksa, dan diam karena tak tahu harus bersuara ke mana,” paparnya.
Menurutnya, ini bukan sekedar kisah individu namun soal bagaimana sebuah masyarakat menjaga yang paling rentan di dalamnya dan kita tidak diciptakan untuk saling membiarkan.
“Dalam ajaran Islam ada kewajiban untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Ada aturan tentang pengelolaan harta, tentang larangan menumpuk kekayaan pada segelintir orang, tentang tanggung jawab negara dan masyarakat terhadap yang lapar dan yang lemah,” jelasnya.
Narator mengingatkan, nilai tidak akan hidup jika hanya diucapkan tapi harus menjadi jalan, kebijakan, dan tindakan dari lingkup yang kecil.
“Menoleh ke tetangga, membantu semampu kita hingga yang besar, memikirkan sistem yang lebih adil yang tidak membiarkan orang seperti Abah berjuang sendirian di usia senja,” cetusnya.
Abah Rastam, tandasnya, mungkin tidak pernah bicara tentang sistem. Ia hanya tahu hari ini harus dilewati.
“Tapi dari langkahnya yang pelan, dari tangannya yang gemetar saat mengambil nasi sisa, ada pesan yang lebih keras dari teriakan bahwa hidup tidak boleh seberat ini untuk dijalani sendirian. Dari sana kita harus mulai belajar bahwa perubahan bukan pilihan, tapi sebuah keharusan,” tutupnya.[] Erlina
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat