Pada 15 Juli 2026, Presiden AS Trump menuntut agar negara-negara Teluk membayar lebih banyak uang untuk keamanan navigasi maritim Amerika di Selat Hormuz, dengan mengatakan: “Kami akan menerima kompensasi atas perlindungan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Selat tersebut akan tetap terbuka dengan atau tanpa Iran, dan kami akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran.” Trump menegaskan di platform Truth Social miliknya bahwa “Amerika Serikat akan dikenal sebagai Penjaga Selat Hormuz, tetapi dalam kapasitas itu dan demi keadilan, Amerika Serikat akan menerima biaya 20% untuk semua pengiriman yang melintasi Selat Hormuz untuk menutupi semua biaya yang diperlukan untuk melaksanakan misi memberikan keselamatan dan keamanan di bagian dunia yang bergejolak ini.”
Tampaknya Trump ingin menagih biaya perang yang dilancarkannya terhadap Iran dari negara-negara Teluk dan negara-negara lain. Pada 2 Mei 2026, setelah pasukan AS mencegat dan menyita kapal kargo berbendera Iran bernama “Tosca” saat menuju pelabuhan Iran (19/4), ia berkata: “Kami menyita kapal, kami menyita kargo, kami menyita minyak. Ini bisnis yang sangat menguntungkan, dan apa yang kami lakukan seperti pembajakan.”
Sekarang Trump mengubah nama pembajakan yang dilakukannya, yaitu pembajakan yang benar-benar dilakukan oleh pencuri koboi Amerika, menjadi nama “Penjaga Selat Hormuz”, dan dia akan melakukan pembajakan tidak hanya terhadap kapal-kapal Iran, tetapi juga terhadap kapal-kapal dari semua negara di dunia, terutama negara-negara Teluk, yang merupakan negara-negara di kawasan, bahwa Trump belum merasa cukup dengan menjarah kekayaan mereka, di mana Trump memeras mereka selama kunjungannya ke Arab Saudi, Qatar, dan UEA pada Mei 2025 dan mengumumkan bahwa ia telah memperoleh kesepakatan senilai 3,2 triliun dolar dengan negara-negara tersebut atas nama investasi, pembelian senjata, dan kesepakatan perdagangan!
Retorika Trump mengatakan bahwa kawasan ini harus menjadi koloni Amerika Serikat yang seluruh uang dan kekayaannya akan dijarah. Amerika Serikat tidak akan memberikan satu sen pun kepada mereka kecuali para penguasanya dan keluarga mereka agar mereka terus memberikan pelayanan kepada Amerika Serikat dan menyetujui penjarahan secara resmi dengan nama-nama tersebut. Para penguasa ini percaya bahwa dengan bermurah hati secara berlebihan kepada Trump, mereka akan menghentikan kejahatan Trump dan kejahatan Amerika Serikat.
Para “ulama” yang dipekerjakan oleh mereka itu kemudian membenarkan donasi negara-negara Teluk kepada Trump, bahkan beberapa di antaranya mengatakan dengan sangat bodoh, “Ini untuk memenangkan hati Trump!” (hizb-ut-tahrir.info, 15/7/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat