Suwaida: Antara Seruan untuk Penentuan Nasib Sendiri dan Jebakan Memecah Belah Umat!

Syeikh otak dari komunitas Druze di Suriah, Hikmat al-Hijri, memperbarui seruannya untuk penentuan nasib sendiri dan pembentukan pemerintahan otonom yang sepenuhnya terpisah dari pemerintah Damaskus, menyatakan bahwa “pilihan kebebasan dan penentuan nasib sendiri tidak tunduk pada tawar-menawar atau loyalitas bersyarat,” dan “martabat gunung ini adalah yang terpenting.” Pernyataan-pernyataan ini disertai dengan seruan terbuka al-Hijri kepada Presiden AS Trump dan Perdana Menteri entitas Yahudi Netanyahu agar campur tangan di Suriah “untuk melindungi kaum Druze,” sementara laporan-laporan mengungkapkan bahwa pertemuan yang diadakan oleh perwakilannya di Washington dengan para pejabat AS untuk mempresentasikan rencana pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah Damaskus dengan dukungan dari entitas Yahudi (skynewsarabia.com, 22/5/2026).

**** **** ****

“Martabat gunung ini adalah yang terpenting!” Sebuah ungkapan yang menggugah semangat dan membangkitkan emosi. Tetapi pertanyaan yang tidak dijawab al-Hijri adalah: Martabat apa yang diminta dari Netanyahu dan Trump?! Dan kebebasan apa yang membutuhkan izin dari penjajah?!

Sungguh, pemandangan seorang pemimpin agama yang secara terbuka memohon kepada perdana menteri entitas Yahudi—buronan internasional karena kejahatan perang—untuk campur tangan dalam urusan negaranya sangat menyakitkan dan memalukan. Ini bukan tentang penentuan nasib sendiri; ini tentang mengundang campur tangan asing, mengganti satu pendudukan dengan pendudukan lain, dan menyerahkan kekuasaan kepada mereka yang ingin memecah belah Suriah, bukan menyelamatkannya.

Permainan ini bukanlah hal baru; sejak Perjanjian Sykes-Picot, yang memecah belah tubuh umat, musuh-musuhnya telah menguasai seni mengeksploitasi identitas sektarian dan etnis sebagai alat untuk memecah belah. Mereka menanamkan rasa takut di hati kelompok etnis yang lebih kecil, kemudian menampilkan diri sebagai pelindung dan penyelamat, hanya untuk memperketat cengkeraman mereka di seluruh wilayah. Perlindungan terhadap Druze saat ini hanyalah mata rantai lain dalam rangkaian panjang proyek-proyek pemecahan wilayah ini.

Selama berabad-abad, kelompok-kelompok etnis kecil di Negara Islam hidup dengan kehormatan, serta harta benda dan darah mereka terlindungi. Kini, tanpa kehadiran Negara Islam, Islam dieksploitasi dengan dalih ketakutan terhadapnya dan terorisme yang dilakukan oleh umatnya, dengan menyerukan perlunya pemisahan. Pemisahan, yang oleh syeikh ini dianggap sebagai jawaban atas ketidakadilan, sebenarnya adalah pintu gerbang menuju tirani baru dan perwalian asing yang tak berujung!

Sesungguhnya, keselamatan tidak akan pernah datang dari Washington atau Tel Aviv, juga tidak akan datang dari kekuatan penjajah mana pun yang terbiasa menyulut api lalu menjual alat pemadamnya. Ketahuilah bahwa keselamatan itu hanya terletak pada persatuan dan kebangkitan umat, juga pada kepemimpinan yang peduli kepada seluruh rakyatnya dan tidak melakukan diskriminasi atas nama sekte, gunung, atau lembah. [] Muhammad Al-Nashir

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 29/5/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: