Sisa Rezim Asad Serang Rezim Baru yang Toleran dan Keras Terhadap Orang-orang Beriman
Sisa-Sisa Rezim Keluarga Asad yang Tumbang Menyerang Rezim Baru yang Toleran Terhadap Mereka dan Keras Terhadap Orang-Orang Beriman
Pada 30 Desember 2025, Syrian Arab News Agency (SANA), kantor berita resmi Suriah mengutip Komando Keamanan Internal di Provinsi Latakia yang mengumumkan bahwa “jam malam di kota berlaku mulai pukul 17.00 hari ini (30/12) hingga pukul 06.00 besok, Rabu (31/12).”
Hal ini terjadi setelah adanya gerakan yang dilakukan oleh sisa-sisa rezim Basyar al-Asad. Pada 29 Desember 2025, Direktorat Kesehatan Latakia mengumumkan bahwa empat orang tewas dan 108 orang terluka dalam serangan terhadap pasukan keamanan selama aksi protes di Latakia.
Pada tanggal 28 Desember 2025, Brigadir Jenderal Abdul Aziz Al-Ahmad, komandan Keamanan Internal di Kegubernuran Latakia, mengumumkan bahwa “beberapa elemen teroris yang berafiliasi dengan sisa-sisa rezim Asad menyerang personel Keamanan Internal di Latakia dan Jablah selama aksi demonstrasi yang diserukan oleh Ghazal Ghazal, yang mengakibatkan beberapa personel keamanan terluka dan kendaraan milik Misi Khusus dan Kepolisian mengalami kerusakan.”
Sisa-sisa rezim lama ini mulai menunjukkan keberanian dalam menantang rezim baru karena rezim yang baru ini sangat lunak dan bahkan memberikan mereka pengampunan. Padahal mereka adalah para pembantai dan penjahat yang telah membunuh, melukai, menyiksa, dan menyebabkan jutaan orang mengungsi; seharusnya mereka tidak boleh diperlakukan seperti ini, dan tidak boleh dibebaskan. Sebab mereka akan mengulangi kejahatan mereka jika tidak dihabisi.
Demikian pula, sikap rezim baru yang mentolerir agen-agen Yahudi Druze melakukan pemberontakan dan menjadi semi-independen, mentolerir pasukan separatis Kurdi yang didukung Amerika, serta mentolerir entitas Yahudi yang menduduki Suriah selatan dan entitas ini terus melakukan serangan harian di sana, bahkan rezim baru Suriah berupaya mencapai perdamaian dengannya. Aka tetapi, rezim baru ini tidak mentolerir para aktivis (syabāb) Hizbut Tahrir, yang mengemban dakwah Islam secara intelektual dan politik, serta mereka yang memainkan peran utama dalam mengubah situasi di Suriah, menggeser opini publik dari nasionalis, patriotik, dan sosialis menjadi Islami, juga mereka yang memainkan peran utama dalam menghadapi rezim Ba’ath dan keluarga Asad, dari ayah (Hafez al-Asad) hingga anak (Basyar al-Asad). Rezim baru ini menjatuhkan hukuman penjara hingga 10 tahun kepada mereka, sama seperti yang dilakukan rezim keluarga Asad.
Rezim baru Suriah, yang dipimpin oleh Ahmad al-Syara’, telah menjual jiwanya kepada setan, mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa malu kepada Allah, apalagi kepada hamba-hamba-Nya, bahkan mereka menganiaya dan menyiksa orang-orang beriman yang tulus ikhlas. Rezim ini mengandalkan dukungan Amerika dan perantaranya, Erdogan, melampiaskan kebenciannya pada para aktivis (syabāb) Hizbut Tahrir, yang telah berulang kali memberi nasihat, namun semua berlalu begitu saja tanpa hasil. Para aktivis (syabāb) Hizbut Tahrir ini telah mengungkap sifat asli rezim tersebut dan menunjukkan hubungannya dengan Turki pimpinan Erdogan, yang telah memainkan peran penting atas nama Amerika dalam mencegah berdirinya pemerintahan Islam dan Khilafah di Suriah (hizb-ut-tahrir.info, 31/12/2025).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat