Mediaumat.id – Penanganan kasus gagal ginjal akut yang menimpa anak-anak beberapa bulan terakhir dinilai oleh Anggota Himpunan Elemen Lintas Profesi Kesehatan dr. Mustaqim terlambat.
“Bisa dikatakan terlambat. Kasus ini sudah mulai dari Agustus, tapi Oktober baru ada upaya pengobatan dan survei lebih lanjut. Sebelumnya pemerintah ke mana?” tuturnya di acara Kabar Petang: Gagal Ginjal Akut, Konspirasi? melalui kanal Youtube Khilafah News, Rabu (2/11/2022).
Dugaan sementara penyebab gagal ginjal anak akut adalah cemaran dari bahan DEG (dietilen glikol) dan EG (etilen glikol) yang terdapat pada produk obat sirup paracetamol. “Sebenarnya paracetamol ini sudah aman. Untuk dijadikan sirup, paracetamol butuh yang namanya profilen glikol (PG) sebagai pelarut. Adanya kebutuhan besar terhadap PG saat pandemi Covid-19 menyebabkan barang ini langka. Produsen yang nakal mencari pelarut DEG dan EG sebagai pengganti PG tanpa melihat bahayanya,” beber Mustaqim.
Konspirasi?
Mustaqim menduga ada konspirasi kapitalis dan konspirasi politik dalam kasus gagal ginjal anak ini.
“Ketika terjadi kelangkaan PG, produsen tidak mau rugi. Mereka menggunakan EG dan DEG sebagai gantinya yang ternyata harganya lebih murah dibanding PG, tanpa memedulikan nyawa. Yang dipedulikan adalah keuntungan dan tidak mau rugi,” ujar Mustaqim menjelaskan konspirasi kapitalis seraya mengatakan cara berpikir seperti ini sangat berbahaya.
Mustaqim menduga, konspirasi politik juga terjadi dengan tidak menetapkan kasus gagal ginjal anak akut ini sebagai kejadian luar biasa (KLB).
“Kalau kita lihat mulai Agustus, September, Oktober peningkatannya sudah bermakna. November sudah bisa dijadikan KLB. Kenapa tidak dijadikan KLB? Ini mungkin ada konspirasi politik, konspirasi pendanaan, konspirasi pencitraan dan sebagainya,” bebernya.
Tidak mau ada kerugian politik, lanjutnya, karena kalau ditetapkan KLB nanti dipandang kinerjanya jelek atau terjadi kerugian pendanaan karena tidak ada pos yang bisa dianggarkan ke situ.
Kelalaian
Mustaqim menilai, kelalaian juga terjadi di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).
“Bagaimana BPOM bisa kecolongan? Apakah tidak ada investigasi pasca-pemasaran kok seperti berlarut-larut,” herannya.
Secara teknologi, sambungnya, negeri ini tidak ketinggalan banget dengan negara lain. Apalagi SDM mulai dari dokter, perawat, tenaga kesehatan, dosen kesehatan tidak masalah.
“Perangkat keras yang kita punya tidak masalah, tapi perangkat lunak yaitu pengambil kebijakan (brainware) ini yang bermasalah,” sesalnya.
Ia mencontohkan, saat bulan Oktober dilakukan investigasi kemudian BPOM melakukan uji coba beberapa sirup, ternyata tidak lama keluar hasilnya mana sirup yang aman mana yang tidak aman yang mengandung EG.
“Pengobatan juga demikian, setelah datang obat dari Singapura kemudian diobati ternyata bisa menekan angka kematian. Jadi secara teknologi dan SDM tidak masalah. Masalahnya political will-nya. Di sinilah kebobrokan sistemiknya,” tandasnya.
Kalau bicara kebobrokan sistemik terkait sistem kesehatan, ucap Mustaqim, tidak bisa lepas dari kebobrokan sistem yang lebih besar lagi yaitu sistem ekonominya kemudian sistem kenegaraannya.
“Ini yang menjadi catatan saat ini, Indonesia sudah kapitalis banget, sekuler banget. Dalam sistem ini nyawa manusia seolah-olah tidak ada harganya, padahal kemampuan kita melakukan investigasi itu cukup, tinggal political will-nya yang harus dibenerin,” bebernya.
Sistem Islam
Mustaqim mengatakan, dari sisi perangkat keras antara sistem kapitalis dengan sistem Islam itu sama. Yang membedakan adalah konsep dan tujuan political will-nya.
“Dalam sistem kapitalis tujuannya itu modal-modal, cuan-cuan. Mana yang ngasih cuan itu yang digarap, mana yang memberikan keuntungan itu yang digarap,” ujarnya.
Oleh karena itu, masih menurut Mustaqim, pemerintah tidak melakukan investigasi segera dalam kasus ini karena tidak memberikan keuntungan bagi pemerintah atau malah terkesan mencitraburukkan, terkesan gagal dan sebagainya.
“Dalam konsep Islam, uang bukan tujuan tapi bagaimana pertanggungjawaban di akhirat, sehingga manusia akan berpikir memberikan pelayanan terbaik agar mendapatkan yang terbaik di akhirat. Ini yang membedakan antara konsep Islam dan kapitalis,” cetusnya.
Islam, jelas Mustaqim, sangat menghargai nyawa. Membunuh satu nyawa tidak berdosa yang tidak ada hak untuk dibunuh itu seolah-olah sudah membunuh manusia seluruh dunia.
“Jadi yang membedakan itu software-nya, konsepnya,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun