Mediaumat.id – Analis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Hanif Kristianto mengungkapkan bahwa untuk mewujudkan perdamaian dunia dibutuhkan kekuatan sistem ekonomi dan politik.
“Kita juga harus paham bahwa perdamaian dunia tidak sekadar membutuhkan kekuatan dari sisi diplomasi. Lebih dari itu juga (butuh) kekuatan sistem ekonomi dan politik, khususnya dalam politik luar negeri,” ungkapnya dalam Kabar Petang: Jokowi Mampu Urus Perdamaian Dunia? di kanal YouTube Khilafah News, Selasa (1/11/2022).
Menurutnya, Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif. “Artinya, bebas menggalang perdamaian di dunia-dunia dan juga tidak mencampuri urusan negara lain,” katanya.
Adapun terkait terobosan perdamaian dunia, Hanif mempertanyakan, terobosan seperti apa yang diinginkan pemerintah Indonesia? “Apakah dengan mengirim pasukan perdamaian bersama PBB?” tanya Hanif kemudian.
Ataukah seperti yang dilakukan Jokowi sebelumnya yaitu mengunjungi negara konflik Ukraina-Rusia. Seperti diketahui, setelah Jokowi pulang ke Indonesia, konflik kedua negara tersebut masih terus terjadi. Apa yang dilakukan Indonesia terhadap negeri-negeri Muslim seperti Palestina, Afganistan serta Myanmar, menurut Hanif, belum menunjukan terobosan perdamaian dunia.
“Sebab, Indonesia masih berada di bawah, pengekor dari negara-negara kapitalisme global yang mereka secara ideologi memiliki kekuatan atau pengaruh di dunia,” tegasnya.
Hanif menambahkan, jangankan berbicara tentang perdamaian dunia, berbicara tentang nilai mata uang rupiah saja masih di bawah dolar AS. Apatah lagi dikaikan dengan diplomasi yang membutuhkan kecakapan politik.
“Kalau kita amati dalam konstelasi global, kalau tidak bersekutu, kalau negara itu sendiri bermain dalam perdamaian dunia, maka tidak akan pernah terwujud perdamaian itu. Karena, konflik itu tercipta karena kepentingan sekutu satu dengan sekutu yang lain yang semua itu saling berebut kepentingan dan kekayaan alam,” pungkasnya.[] Ikhty