MediaUmat – Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan menilai megaproyek Giant Sea Wall akan menjadi beban masa depan yang nyata.
“Bagi kita mega proyek Giant Sea Wall ini akan menjadi beban masa depan yang sangat nyata,” ulasnya dalam video Tanggul Laut, Harapan atau Ancaman? di kanal YouTube Khilafah News, Jumat (22/5/2026).
Karena, jelas Fajar, proyek ini membutuhkan anggaran fantastis dan berisiko menjadi beban fiskal dan utang, yang harus rakyat bayar di masa depan.
“Kita harus jujur melihat di balik kemegahan proyek senilai lebih dari 1.200 triliun ini. Apakah sebuah tembok beton raksasa benar-benar merupakan solusi jangka panjang atau justru sebaliknya,” tanyanya retoris.
Fajar mengingatkan, para generasi masa depan tidak boleh menjadi penonton pasif atas kebijakan ini.
“Kita harus bersuara. Teman-teman bisa menggunakan media sosial untuk mengedukasi publik, mengawal transparansi asesmen prosesnya, perencanaan, hingga pembangunan 15 segmen tersebut. Kemudian menuntut pemerintah agar berfokus menyelesaikan akar masalahnya,” kritiknya.
Menurut Fajar, akar masalahnya bukan sekedar air laut yang naik, melainkan ekstraksi air tanah secara masif, kerusahan kawasan bakau di pesisir, dan tata ruang kota yang buruk.
“Benteng beton tidak akan menyelesaikan masalah seluruhnya selama akar masalah sebenarnya belum dipecahkan,” cetusnya.
Jadi, papar Fajar, akar masalahnya ialah ekonomi kapitalistik ekstraktif yang telah mengakibatkan kerusakan nyata di mana-mana.
“Megaproyek infrastruktur tidak boleh hanya menjadi ajang bagi-bagi proyek atau sekadar memproteksi kawasan properti di pesisir,” cetusnya.
Sehingga, lanjut Fajar, rakyat tidak boleh menutup mata terhadap fakta di lapangan.
“Para pakar lingkungan telah mengingatkan bahwa pembendungan laut secara masif ini berpotensi merusak ekosistem pesisir mulai dari hutan mangrove, padang lamun hingga terumbu karang,” ujarnya.
Fajar berharap, pemerintah harus melakukan penilaian menyeluruh (comprehensive assessment) menggunakan instrumen yang terbaik. Kajian lingkungan hidup strategis atau KLHS, AMDAL yang partisipatif dan transparan, social baseline study, dan livelihood assessment, hingga melibatkan masyarakat lokal secara bermakna.
“Menyelamatkan Pantura berarti harus menyelamatkan ekosistemnya dan memanusiakan nelayan serta masyarakat pesisir yang tinggal di sana,” tandasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fajar juga menyatakan, pemerintah sedang mematangkan rencana membangun benteng beton raksasa 500 km yang membentang dari Serang di Banten hingga Gresik di Jawa Timur. Itulah Giant Sea wall atau tanggul laut raksasa.
Seperti diketahui, sebut Fajar, Giant Sea Wall adalah megaproyek yang rencananya dibagi ke dalam 15 segmen wilayah. Alasan pemerintah memang terdengar sangat mendesak yaitu menyelamatkan puluhan juta warga pantura dari ancaman tenggelam akibat penurunan permukaan tanah hingga 25 cm per tahun dan mencegah potensi kerugian ekonomi yang masif.
“Realitasnya, merupakan sebuah proyek ambisius berbiaya fantastis yang berisiko menciptakan bencana ekologis baru yang jauh lebih mengerikan,” pungkasnya.[] Novita Ratnasari
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat