PKAD: Angka 2% Pertumbuhan, Alarm untuk Memikirkan Ulang

 PKAD: Angka 2% Pertumbuhan, Alarm untuk Memikirkan Ulang

MediaUmat Ismail dari Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) menyatakan, tumbuhnya angka perekonomian di Indonesia di kisaran 2,3% sampai 2,6% bukanlah sekadar statistik melainkan alarm untuk memikirkan ulang tentang model ekonomi yang adil dan stabil.

“Bukan sekadar alternatif moral, angka 2% pertumbuhan itu bukan sekadar statistik, itu alarm buat kita untuk mulai mikir ulang model ekonomi macam apa yang lebih adil dan stabil buat masa depan,” ujarnya dalam video Ekonomi Global Bergejolak, RI Ikut Collaps? di kanal YouTube Khilafah News, Kamis (5/2/2026).

Memang, jelas Ismail, perekonomian di Indonesia ini sedamg tumbuh, tapi tumbuhnya tipis, di kisaran 2,3 sampai 2,6% dan angka ini jauh di bawah rata-rata sebelum pandemi.

“Kita dibilang tumbuh tapi realitanya tensi dagang naik, harga kebutuhan melonjak dan proteksionisme ada di mana-mana. Pertanyaannya ini memang lagi masa sulit atau sebenarnya sistemnya yang emang sudah expired (kadaluarsa)?” keluhnya.

Terkait rivalitas, jelas Ismail, sekarang ini yang di satu sisi ada kapitalisme liberal Barat yang makin proteksionis, di sisi yang lain ada state kapitalisme Cina yang agresif lewat investasi infrastruktur di Asia-Afrika.

“Sebenarnya ini cuma perang beda operator. Barat itu kapitalis yang dikendalikan swasta atau korporasi. Cina itu kapitalis yang dikendalikan negara. Dua-duanya tetap kapitalisme yang harus ekspansi,” bebernya.

Dampaknya, sebut Ismail, terkait isu dedolarisasi makin kencang. Di satu sisi negara-negara mulai gerah dengan dominasi dolar, bukan karena dolarnya ambruk, tapi karena lelah disetir kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Kita ini ada di tengah baku hantam gajah-gajah besar. Nah, kalau kita pakai kacamata Syekh Takyuddin an-Nabhani dalam Nidzam al-Iqtisadi fi al-Islam, fenomena ini makin kebaca polanya. Beliau sudah lama mengingatkan kalau kapitalisme itu cacat sejak dalam pikiran karena fokusnya cuma pada produksi atau pertumbuhan, bukan distribusi,” bebernya.

Dalam perspektif ini, lanjutnya, krisis dan ketegangan global itu niscaya karena landasannya adalah keserakahan dan hegemoni.

“Islam menawarkan model yang beda total, ekonomi bukan soal siapa yang paling dominan, tapi soal memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhan dasarnya, tidak ada lagi monopoli sumber daya alam oleh oligarki atau negara lewat skema kapitalistik. Karena dalam Islam, sumber daya alam adalah kepemilikan umum yang manfaatnya wajib kembali ke rakyat,” ujarnya.

Stabilitas itu, lanjutnya, bukan dari perang tarif, tapi dari sistem mata uang berbasis emas perak yang tahan inflasi dan anti manipulasi politik global.

“Jadi, apakah kapitalisme liberal bakal ambruk atau mungkin ini saatnya sistem ekonomi Islam mulai dilirik sebagai solusi nyata?” tutupnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *