Pidato Kenegaraan Trump Menegaskan Empat Pelajaran Penting bagi Kaum Muslim

Surat Kabar Al-Rayah – Edisi 589 – 04/03/2026
Oleh: Ustaz Musab Umair – Wilayah Pakistan

Pada 24 Februari 2026, Donald Trump menyampaikan State of the Union Address-nya, yang merupakan pidato terpanjang dalam sejarah Amerika. Pidato Trump tersebut menegaskan pelajaran-pelajaran penting bagi kaum Muslim, karena itu adalah pidato kepala negara dari negara terdepan, Amerika, pada saat gejolak besar, baik di dalam Amerika maupun di dunia. Ada empat pelajaran penting bagi kaum Muslim yang ditegaskan oleh pidato Trump:

Pelajaran Pertama: Kapitalisme Telah Gagal bagi Rakyat Amerika. Ia Tidak Memiliki Apa pun untuk Ditawarkan kepada Dunia Muslim.

Di tengah ekonomi yang melemah, Trump memulai pidatonya dengan klaim yang menyesatkan tentang ekonomi, inflasi, dan pengangguran. Trump mengklaim, “pemerintahan saya telah menurunkan inflasi inti.” Namun ukuran inflasi yang lebih disukai oleh Federal Reserve — inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE), yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang berfluktuasi — kembali meningkat.

Trump juga mengklaim, “lebih banyak orang Amerika yang bekerja hari ini daripada kapan pun dalam sejarah negara kita.” Namun tingkat pengangguran sebenarnya meningkat, dan tahun 2025 merupakan salah satu tahun terburuk dalam beberapa dekade, sementara jumlah orang Amerika yang bekerja hanya meningkat karena pertumbuhan populasi.

Mengenai ekonomi secara umum, data dari Federal Reserve menunjukkan bahwa 1% rumah tangga teratas memiliki 31,7% dari seluruh kekayaan Amerika Serikat pada kuartal ketiga 2025, bagian tertinggi yang pernah tercatat sejak Federal Reserve mulai melacak kekayaan rumah tangga pada tahun 1989. Secara kolektif, 1% orang terkaya memegang sekitar 55 triliun dolar aset pada kuartal ketiga 2025 — kira-kira setara dengan kekayaan yang dimiliki oleh 90% terbawah rakyat Amerika secara gabungan.

Trump tidak memiliki solusi untuk konsentrasi kekayaan yang sangat besar di tangan elit Amerika, yang telah membuat sebagian besar rakyat berada dalam kesulitan ekonomi. Hal ini karena alih-alih melayani rakyat, kapitalisme melayani elit kaya.

Biarlah kaum Muslim menjadi saksi bahwa kapitalisme Barat telah gagal bagi rakyat negara terdepan yang memimpinnya, maka harapan apa yang ada bagi kaum Muslim jika menerapkan sistem kapitalisme yang sama di negeri-negeri mereka? Dan mengapa mereka harus menerapkan kekufuran kapitalisme, sementara Islam telah memberikan berabad-abad kemakmuran melalui hukum Syariahnya di bawah perlindungan Khilafah?

Pelajaran Kedua: “America First” adalah Kebijakan Menghukum dan Menjarah Seluruh Dunia.

Trump secara terbuka menyatakan, “Saya percaya tarif yang dibayar oleh negara-negara asing akan, seperti di masa lalu, secara substansial menggantikan sistem pajak penghasilan modern, sehingga mengurangi beban finansial besar dari rakyat yang saya cintai.”

Trump menambahkan, “triliunan dan triliunan dolar akan terus mengalir ke Amerika Serikat karena akhirnya kita memiliki seorang presiden yang menempatkan Amerika pertama.”

Dengan demikian, Trump menghukum kekuatan besar lainnya, termasuk negara-negara Eropa, yang telah menyebabkan kebencian besar terhadap Amerika. Hal ini ditambah dengan penjarahan Trump terhadap negara-negara Muslim yang berada di bawah kendali agen-agen Barat, sebagaimana terlihat dalam hubungannya dengan negara-negara Teluk, yang para penguasanya membelanjakan kekayaan umat secara bebas untuk menguntungkan ekonomi Amerika.

Biarlah kaum Muslim mengetahui bahwa mereka tidak hanya menderita akibat kapitalisme, mereka juga dipukul oleh kolonialisme ekonomi. Kolonialisme ekonomi inilah yang menenggelamkan negeri-negeri Muslim dalam utang untuk membayar bunga kepada lembaga keuangan Barat. Ia memenuhi ekonomi Amerika dengan kekayaan umat di bawah nama investasi oleh para ruwaibidhah, para penguasa Muslim yang tidak berarti. Ia juga membuka pintu bagi perusahaan Amerika untuk mengeksploitasi bahan mentah kaum Muslim dan mendominasi pasar mereka.

Pelajaran Ketiga: Amerika Lumpuh oleh Konflik Internal yang Mendalam.

Pidato Trump kemudian beralih untuk menegaskan retakan yang terus-menerus dalam “deep state” Amerika, akibat konflik yang intens antara Partai Demokrat dan Partai Republik.

Retakan ini pertama kali mulai tampak pada masa jabatan pertama Trump, berlanjut pada masa jabatan Joe Biden, dan menjadi semakin dalam serta semakin luas pada masa jabatan kedua Trump.

Trump menyerang Partai Demokrat dengan mengatakan, “Mereka telah menyebabkan penutupan pemerintah oleh Demokrat lagi, yang pertama menelan biaya 2 poin terhadap PDB kita… Kita tidak punya uang karena Demokrat.”

Adapun pemilihan paruh waktu 2026, yang dijadwalkan pada 3 November 2026, partai Trump menghadapi prospek yang sulit. Karena itu Trump menyebutkan rencananya untuk melemahkan basis pemilih non-kulit putih yang menjadi sandaran Partai Demokrat.

Ia mengatakan, “kecurangan merajalela dalam pemilu kita. Itu merajalela. Sangat sederhana, semua pemilih harus menunjukkan identitas pemilih.”

Undang-undang Safeguard American Voter Eligibility (SAVE) Act milik Trump memastikan undang-undang identitas pemilih yang ketat, yang berdampak pada orang-orang berkulit berwarna lebih daripada orang kulit putih, meskipun sebenarnya sudah ada ketentuan untuk mencegah warga non-negara memilih.

Pelajaran bagi kaum Muslim adalah bahwa Amerika Serikat lebih terpecah daripada sebelumnya. Hal ini mengurangi kemampuannya untuk mendominasi Dunia Muslim. Konflik politik internal Amerika juga disertai dengan krisis ekonomi serta kelelahan militer setelah kampanye militernya di Dunia Muslim.

Dengan demikian, peluang untuk keluar dari dominasi Amerika lebih terbuka daripada sebelumnya, jika orang-orang yang memiliki kekuasaan memenuhi kewajiban Syariah mereka untuk menegakkan kembali Khilafah Rasyidah.

Pelajaran Keempat: Kebijakan Amerika terhadap Dunia Muslim adalah Kehinaan dan Kerugian.

Trump kemudian membahas dunia, di mana negara-negara Muslim mendapat perhatian besar.

Trump berkata, “Pakistan dan India akan mengalami perang nuklir. 35 juta orang, kata perdana menteri Pakistan, akan mati jika bukan karena keterlibatan saya. Kosovo dan Serbia, ‘Israel’ dan Iran, Mesir dan Ethiopia, Armenia dan Azerbaijan, Kongo dan Rwanda dan tentu saja perang di Gaza, yang berlangsung pada tingkat yang sangat rendah.”

Ia menambahkan tentang Iran, “Mereka ingin membuat kesepakatan, tetapi kita belum mendengar kata-kata rahasia itu: kita tidak akan pernah memiliki senjata nuklir… satu hal yang pasti, saya tidak akan pernah mengizinkan sponsor teror nomor satu di dunia — yang memang demikian — untuk memiliki senjata nuklir.”

Biarlah kaum Muslim menyadari dampak yang menghancurkan dari kebijakan luar negeri Trump terhadap mereka dan kebutuhan mendesak untuk keluar dari kolonialisme Amerika.

Mengenai perang empat hari antara Pakistan dan India, Trump memerintahkan Pakistan untuk menghentikan pertempuran, bukan untuk mencegah perang nuklir, tetapi untuk mengurangi kerugian India. Dengan demikian para penguasa Pakistan mencegah tentara Pakistan memanfaatkan kesempatan emas untuk membebaskan Kashmir yang diduduki.

Adapun perang di Gaza, Trump sepenuhnya mendukung entitas Yahudi ketika melakukan genosida di Gaza, dan kemudian dalam serangannya terhadap Lebanon, Suriah, Qatar, dan Iran.

Adapun Iran, Trump telah menjelaskan bahwa ia tidak menerima kaum Muslim memiliki senjata nuklir. Meskipun Trump berbicara langsung tentang Iran, jelas bahwa senjata nuklir Pakistan juga berada dalam perhatiannya, dengan penyebutan berulang tentang senjata nuklir dan uji coba nuklir Pakistan.

Wahai Kaum Muslim dan Para Pemilik Kekuasaan serta Perlindungan!

Pidato Trump menegaskan kegagalan kapitalisme, ketidakadilan kolonialisme, konflik domestik yang melumpuhkan pengambilan keputusan Amerika, serta bahaya mematikan dari kebijakan luar negeri Amerika.

Pelajaran-pelajaran tersebut sia-sia bagi para agen Trump di Dunia Muslim. Mereka memiliki mentalitas budak dan tidak dapat membayangkan dunia tanpa tuan.

Adapun orang-orang yang tulus di antara pemilik kekuasaan, Allah telah memberikan mereka kesempatan untuk membawa perubahan yang didoakan oleh kaum Muslim.

Maka hendaklah orang-orang yang tulus di dalam tentara kaum Muslim memberikan nushrah (dukungan militer) kepada Hizb ut Tahrir untuk menegakkan kembali Khilafah Rasyidah atas metode kenabian.

Di tengah kegagalan kekufuran dan perpecahan di antara orang-orang kafir, Khilafah akan memastikan dominasi agama yang benar, Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

[الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا]

“Orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong selain orang-orang mukmin — apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka? Sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah.”
(QS. An-Nisa: 139).

The State of Union Address of Trump Confirms Four Important Lessons for Muslims

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: