Pada 1 Oktober 2026, pemerintah Yaman, melalui juru bicara resmi angkatan bersenjata, mengumumkan bahwa mereka telah menggagalkan serangan besar-besaran Houthi di semua front poros Tur al-Bahah di Provinsi Lahj, Yaman selatan, serta memperketat cengkeramannya terhadap semua pasukan penyerang. Mereka juga melaporkan telah melakukan enam serangan udara di tenggara Provinsi Taiz di Yaman barat daya.
Surat kabar Saudi Asharq Al-Awsat melaporkan bahwa “konfrontasi antara pemerintah Yaman dan kelompok Houthi telah memasuki fase yang lebih intens dengan meningkatnya pertempuran di front Taiz dan Lahj. Pertempuran terkonsentrasi di Taiz bagian barat dan daerah-daerah yang terhubung ke Lahj, di mana pasukan pemerintah, dengan partisipasi Brigade Raksasa, Perisai Tanah Air, dan pejuang suku, terlibat dalam konfrontasi sengit dengan serangan Houthi, upaya infiltrasi, dan manuver pengepungan.”
Kelompok Houthi telah meningkatkan bombardir rudal ke daerah pemukiman di Taiz, sementara pasukan pemerintah mengumumkan 414 operasi penargetan dalam 24 jam, sehari setelah mengumumkan 356 operasi yang menurut mereka mengakibatkan 476 tewas dan luka-luka di pihak Houthi, sehingga meningkatkan jumlah korban yang mereka umumkan selama 4 hari menjadi sekitar 3.000 orang tewas dan terluka.
Konflik di Yaman berkecamuk antara Inggris dan Amerika Serikat, yang dilancarkan melalui proksi regional dan lokal. Agen-agen Inggris saat ini sedang dieliminasi di Taiz, Lahj, dan Marib. Kelompok Houthi menyerang daerah-daerah ini, dengan harapan Amerika Serikat akan mengizinkan mereka untuk merebut kendali, seperti yang dilakukan di pantai barat untuk melenyapkan agen-agen Inggris yang dipimpin oleh Tariq Saleh, atau Brigade Raksasa dan pasukan Perisai Tanah Air yang didukung Saudi akan mengambil alih, seperti yang mereka lakukan di Hadramaut dan Al-Mahra, mengusir agen-agen Inggris yang dipimpin oleh Aidarus al-Zubaidi, yang melarikan diri ke Uni Emirat Arab.
Ulama terkemuka dan pemimpin Hizbut Tahrir, Atha bin Khalil Abu Rasytah, mengeluarkan “Jawab Soal” tertanggal 27 September 2026, di mana beliau membahas “Dimensi Perkembangan Militer di Yaman”, dan menyimpulkan dengan mengatakan: “Oleh karena itu, tidak ada keselamatan bagi Yaman kecuali dengan menyingkirkan alat-alat yang memungkinkan kekuatan kolonial yang berperang untuk tetap berkuasa dan memperluas pengaruh mereka. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendirikan Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah, yang dijanjikan Allah SWT dan kabar gembira (busyra) akan berdirinya kembali telah dinubuatkan oleh Rasulullah SWT.” (hizb-ut-tahrir.info, 2/10/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat