MediaUmat – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dinilai tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah dan nilai, melainkan wajib tunduk kepada akidah dan syariat Allah SWT.
“Islam tidak membiarkan teknologi berjalan tanpa arah dan nilai. Seluruh perkembangan ilmu dan teknologi wajib tunduk kepada akidah dan syariat Allah SWT,” ujar Jurnalis Joko Prasetyo, atau biasa dipanggil Om Joy, kepada media-umat.com, Ahad (24/5/2026).
Pasalnya, tegas Om Joy, teknologi AI tidak pernah benar-benar netral ataupun bebas nilai. Di balik algoritma dan sistem kecerdasan buatan, menurutnya, selalu terdapat kepentingan, cara pandang, dan pihak tertentu yang mengendalikan arah penggunaannya. Saat ini, perbincangan mengenai AI telah bergeser dari sekadar kecanggihan teknologi menjadi pertarungan pengaruh dan dominasi informasi global.
“Masalahnya, sebagian besar teknologi AI dunia saat ini justru dikuasai korporasi raksasa dan negara-negara adidaya Barat. Mereka menguasai server, algoritma, platform digital, data pengguna, hingga infrastruktur informasi global,” kata Om Joy.
Kondisi tersebut dinilai membuat negara-negara berkembang, termasuk umat Islam, hanya menjadi pasar, pengguna, sekaligus objek pengumpulan data bagi kekuatan digital global. Negara atau umat yang tidak mandiri dalam bidang ini disebut akan mudah dipantau, ditekan, hingga dikendalikan oleh kekuatan asing.
“Media sosial, berita, dan opini publik hari ini banyak diarahkan oleh algoritma yang tidak dipahami masyarakat. Di sinilah AI menjadi berbahaya ketika digunakan tanpa kendali nilai dan moral,” paparnya.
Ia menilai teknologi tersebut rentan digunakan untuk kepentingan propaganda, manipulasi opini, sensor terselubung, perang informasi, hingga pembentukan gaya hidup tertentu secara masif.
Gagasan Kemandirian Teknologi
Untuk mengatasi ancaman dan ketergantungan digital tersebut, Om Joy menegaskan pentingnya membangun kekuatan informasi secara mandiri. Mengutip kitab Dairat Tiknulujiya al-Ma’lumat wa al-Ittishalat karya Hizbut Tahrir tahun 2026, ia menjelaskan, teknologi informasi kini telah menjadi tulang punggung perang modern yang sangat menentukan kedaulatan negara. Tanpa penguasaannya, persenjataan canggih konvensional dapat kehilangan efektivitasnya di medan perang.
Oleh karena itu, dalam konsep negara khilafah di masa depan, institusi tersebut dinilai wajib membangun infrastruktur teknologi informasi sendiri secara total, tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer fisik.
“Khilafah wajib membangun industri strategis sendiri agar umat Islam tidak selamanya menjadi pasar digital dan objek eksploitasi data global. Negara juga wajib menyiapkan para ahli teknologi, ilmuwan, dan pakar keamanan siber,” jelas Om Joy.
Terakhir, ia menegaskan, Islam pada dasarnya tidak anti terhadap teknologi maupun AI, melainkan mendorong umat untuk menguasai sains sebagai bagian dari kekuatan peradaban.
“Namun, AI tidak boleh dijadikan alat propaganda kebatilan, penyebaran kerusakan moral, manipulasi publik, maupun instrumen dominasi asing atas umat Islam. Teknologi semestinya digunakan untuk pendidikan, kesehatan, keamanan, dakwah, pelayanan publik, dan penguatan peradaban Islam,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat