MediaUmat – Setelah memikat pembaca di awal tulisan dan membongkar masalah di permukaan, penulis opini Islam juga wajib membangun benturan ideologis untuk menunjukkan perbedaan prinsip pemikiran yang mendasarinya.
Hal tersebut ditekankan Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) dalam tulisan serial edukasi Belajar Menulis Opini Islam Ideologis: Fondasi 2 — Seri 3: Membangun Benturan Ideologis yang diterima media-umat.com, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, benturan ideologis bukan sekadar mengadu istilah, melainkan menjelaskan perbedaan prinsip dan standar kebenaran antara Islam dan sekularisme.
Penjelasan tersebut tampak saat membedah kembali naskah opini pelantikan Rocky Gerung dan larangan kerudung di Azerbaijan. Dalam dua contoh itu, penulis dituntut membawa pembaca masuk ke tataran pemikiran dasar agar opini tidak berhenti pada penceritaan peristiwa atau pengupasan masalah saja.
Dengan kata lain, penyajian benturan ideologis menjadi poin krusial agar pembaca dapat melihat secara jelas perbedaan mendasar antara pandangan Islam dan sistem sekuler.
Lima Panduan Praktis
Dari materi tersebut, Om Joy pun menjabarkan lima panduan praktis bagi penulis. Pertama, menemukan perbedaan standar penilaian dengan membenturkan demokrasi yang menempatkan manusia sebagai pembuat hukum dan Islam yang menjadikan Allah SWT sebagai Al-Hakim.
Kedua, mempertemukan prinsip dan praktik dengan membongkar klaim kebebasan sekularisme yang berbenturan dengan kenyataan pembatasan kerudung di Azerbaijan.
“Ternyata kebebasan bisa punya syarat, yaitu bebas selama tidak bertentangan dengan tafsir penguasa tentang sekularisme,” tegas Om Joy.
Ketiga, tidak sekadar mengadu istilah, seperti memperhadapkan narasi ‘moderasi’ atau ‘kebebasan’ tanpa membongkar prinsip di baliknya.
“Benturan ideologis bukan sekadar memperhadapkan dua istilah, melainkan menjelaskan pertentangan prinsip di balik persoalan,” lanjutnya.
Keempat, mengarahkan pada perspektif Islam dengan tidak berhenti pada imbauan moral individu, melainkan menghadirkan solusi sistemik berbasis syariat.
“Dengan demikian, benturan ideologis tidak berhenti pada kritik, tetapi mengantarkan pembaca pada solusi berdasarkan perspektif Islam,” jelasnya.
Kelima, menguji benturan ideologis dengan memastikan tiga elemen kunci terpenuhi sebelum merampungkan naskah, yaitu mengidentifikasi apa yang berbenturan, menentukan lokasi pertentangannya, serta menegaskan pandangan Islam terhadap persoalan tersebut.
Penerapan kelima langkah tersebut secara terstruktur dinilai akan membuat argumentasi opini Islam tidak hanya kokoh secara prinsipil, tetapi juga tajam dan terarah saat membedah isu-isu kontemporer.
Kendati demikian, Om Joy mengingatkan bahwa menunjukkan benturan ideologis saja belum cukup tanpa dibarengi dengan pembuktian landasan yang kuat.
“Menunjukkan pertentangan saja belum cukup. Penulis tetap harus membuktikan mengapa kritiknya beralasan dan mengapa Islam menjadi landasan penilaiannya,” pungkasnya seraya mengingatkan urgensi materi penguatan argumentasi yang akan dibahas selanjutnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat