Pengamat: ART ini Penjajahan Nyata Amerika atas Indonesia

MediaUmat – Pengamat Ekonomi Dr. Arim Nasim menilai Perjanjian Dagang Resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat sebagai penjajahan yang nyata.

“Jelas ini adalah penjajahan secara nyata Amerika atas Indonesia,” ujarnya kepada media-umat.com, Ahad (1/3).

Menurutnya, namanya Agreement on Reciprocal Trade tapi faktanya jauh sekali dari perjanjian resiprokal (timbal balik setara) karena ada 217 kewajiban yang harus dipenuhi oleh Indonesia, sementara Amerika hanya punya kewajiban 6 poin.

“Poin-poin yang dituntut oleh Amerika menunjukkan dominasi Amerika terhadap Indonesia, bahkan mengabaikan kedaulatan Indonesia,” ungkapnya.

Hal ini, kata Arim, terlihat dari beberapa poin perjanjian tersebut. Di antaranya, Indonesia harus membatasi ekspor dan investasi dari negara yang masuk daftar boikot Amerika Serikat. Indonesia harus menyelaraskan kebijakan kontrol ekspor dengan Amerika Serikat.

“Jadi, dari poin tersebut, kita melihat bukan perjanjian resiprokal tapi lebih pada upaya menjadikan Indonesia bagian dari negara Amerika,” tegasnya.

Dalam pandangan Islam, sebut Arim, Amerika Serikat masuk negara kafir harbi fi’lan karena mendukung Yahudi membantai saudara Muslim di Palestina dan secara langsung memerangi kaum Muslim di negeri yang lain.

“Di Indonesia juga menjajah ekonomi melalui Freeport dan perusahaan lainnya. Maka dalam pandangan Islam harus muamalah perang bukan kerja sama yang justru semakin mengokohkan penjajahan terhadap dunia Islam termasuk juga di negeri kita,” tandasnya.[] Achmad Mu’it

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: