MediaUmat – Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) menilai, seluruh tahapan penulisan opini Islam ideologis—mulai dari memikat pembaca, membongkar masalah, membangun benturan ideologis, hingga menguatkan argumentasi—perlu diakhiri dengan formulasi penutup yang tepat agar pesan utama yang diperjuangkan tertancap kuat.
“Semua itu perlu diakhiri dengan penutup yang tepat,” ujarnya dalam serial edukasi Belajar Menulis Opini Islam Ideologis: Fondasi 2 — Seri 5 bertajuk Menutup Opini dengan Kesimpulan yang Menghujam yang diterima media-umat.com, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, penutup bukan sekadar bagian akhir tulisan untuk menghentikan narasi. Di bagian ini, penulis harus menegaskan inti argumentasi, memperjelas pesan utama, serta meninggalkan kesan mendalam yang membuat pembaca terus memikirkan persoalan.
“Penutup yang menghujam bukan sekadar membuat pembaca terkesan, melainkan membuat mereka memahami inti persoalan dan mengingat pesan yang diperjuangkan penulis,” tegasnya sembari menyebut materi ini sebagai kelanjutan berjenjang untuk membimbing penulis menyusun naskah secara runtut, logis, dan ideologis.
Empat Langkah
Untuk itu, guna menghasilkan penutup yang kuat, Om Joy merumuskan empat langkah praktis bagi penulis dengan kembali mengambil contoh dari naskah opini tentang pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Wantimpres dan isu pembatasan kerudung di Azerbaijan.
Pertama, tegaskan persoalan utama tanpa membuka pembahasan baru. Om Joy mencontohkan naskah tentang Rocky Gerung yang mengembalikan fokus pembaca bukan pada sosok Rocky, melainkan pada standar kebenaran dalam menilai kekuasaan. Poin utamanya, penulis harus disiplin mengembalikan pembaca pada inti masalah.
Kedua, tarik kesimpulan dari argumentasi secara terarah. Pada naskah Azerbaijan, pembahasan digeser secara taktis dari isu pembatasan kerudung menuju pertanyaan mendasar tentang siapa yang berhak menentukan aturan kehidupan. Kuncinya, arahkan pembahasan secara konsisten menuju inti persoalan yang ingin ditegaskan.
Ketiga, pertegas perspektif Islam melalui kesimpulan yang lahir dari argumentasi. Hal ini dicontohkan lewat penegasan bahwa Islam menghendaki penguasa yang tunduk pada hukum Allah, bukan sekadar penguasa yang bersedia dikritik.
“Pertegas posisi ideologis melalui kesimpulan yang lahir dari argumentasi, bukan sekadar menambahkan slogan,” ujar Om Joy.
Keempat, pilih kalimat terakhir yang berkesan dan tajam. Om Joy mengingatkan agar kalimat pamungkas tidak sekadar menyampaikan rekomendasi umum—seperti sekadar mengimbau pemerintah mengevaluasi kebijakan—tetapi tajam menohok akar masalah.
Ia mencontohkan kalimat yang lebih kuat: “Jangan sampai umat Islam sibuk memperjuangkan kebebasan dalam sistem yang ada, tetapi lupa mempertanyakan sistem yang membatasi kebebasan mereka untuk taat kepada Allah.”
Setelah merangkai keempat langkah penutup tersebut, Om Joy mengimbau penulis untuk melakukan pengujian mandiri melalui tiga pertanyaan evaluatif. “Apakah penutup menegaskan inti argumentasi? Apakah kesimpulan lahir dari pembahasan sebelumnya? Apakah kalimat terakhir meninggalkan pesan yang kuat?” paparnya.
Demikian, tahapan evaluasi tersebut sekaligus melengkapi seluruh rangkaian penyusunan alur penulisan opini Islam ideologis dari awal hingga akhir.
“Dengan memahami kelima tahap ini [seluruh alur penulisan dari Seri 1 hingga Seri 5], kita memiliki kerangka untuk menyusun alur opini Islam ideologis secara runtut, yaitu menarik perhatian, membongkar masalah, menunjukkan benturan ideologis, menguatkan argumentasi, lalu menutupnya dengan kesimpulan yang kuat,” pungkas Om Joy seraya memberikan gambaran materi Fondasi 3 mendatang yang akan mengulas karakter bahasa dalam naskah opini.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat