KTT NATO diadakan di Ankara pada tanggal 7 dan 8 Juli 2026. Komunike akhir menegaskan bahwa negara-negara anggota bertemu di Ankara untuk memperbarui komitmen teguh mereka terhadap Pasal 5 perjanjian NATO tentang pertahanan kolektif dan hubungan transatlantik, yang menekankan bahwa serangan terhadap satu sekutu adalah serangan terhadap semua. Lebih lanjut dinyatakan bahwa persatuan, solidaritas, dan kekuatan kolektif Aliansi akan tetap menjadi fondasi perdamaian, keamanan, dan kemakmuran bagi satu miliar orang di negara-negara anggotanya, menegaskan kembali komitmen berkelanjutan terhadap pendekatan pencegahan dan pertahanan 360 derajat yang komprehensif.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa “Sekutu sedang memenuhi Janji Pertahanan Den Haag untuk melawan ancaman Rusia yang telah lama ada terhadap keamanan dan stabilitas kawasan Euro-Atlantik, serta ancaman terorisme yang berkelanjutan.” Sementara yang dimaksud dengan terorisme adalah seruan untuk pemerintahan Islam dan apa yang mereka sebut Islam politik. Pernyataan tersebut menekankan “upaya untuk membangun NATO yang lebih kuat dalam kerangka Eropa yang lebih kuat, aliansi yang lebih modern, dengan sekutu Eropa dan Kanada memikul tanggung jawab yang lebih besar bersama Amerika Serikat untuk pertahanan Aliansi.”
Artinya, NATO sedang mendefinisikan tujuannya untuk menghadapi ancaman Rusia dan menghadapi kaum Muslim yang berupaya mendirikan Negara Khilafah.
Erdogan menyambut Trump di bandara dan kemudian mempersilakannya ke istana kepresidenan serta mengadakan pertemuan bilateral sebelum KTT NATO. Penyambutan tersebut menunjukkan kedalaman persahabatan dan kasih sayang di antara keduanya, seperti yang sebelumnya dinyatakan Trump, “Saya mencintai Erdogan dan dia mencintai saya.” Selama kunjungan ini, Trump mengulangi pernyataan serupa, dengan mengatakan: “Terus terang, jika KTT NATO tidak diadakan di Turki, dan jika teman saya Erdogan, yang merupakan pemimpin yang sangat kuat dan pribadi yang sangat berpengaruh, tidak berada di sini, maka saya mungkin tidak akan berpartisipasi di dalamnya.”
Trump memuji sikap Turki yang tidak berpihak pada Iran. Pujian ini menggarisbawahi sejauh mana kesetiaan Erdogan kepada kaum kafir yang secara terbuka menyatakan permusuhan mereka terhadap Islam dan kaum Muslim, serta kembalinya Islam ke dalam pemerintahan, juga kaum kafir terus melancarkan perang terhadap negeri-negeri Muslim. Namun dengan semua ini, Erdogan tidak campur tangan untuk menghentikan agresi terhadap negeri-negeri Islam seperti Iran dan Lebanon. Sebelumnya, Erdogan juga dipuji karena tidak campur tangan untuk menolong Gaza ketika menghadapi serangan genosida, bahkan samapai saat ini agresi terhadapnya terus berlanjut.
Saat Trump melampiaskan amarahnya kepada Eropa karena tidak membantunya dalam perang melawan Iran, Trump menuntut agar mereka memenuhi kewajiban keuangan mereka dengan meningkatkan pengeluaran militer, dan ia menuntut agar mereka menyerahkan Greenland kepada Amerika, dengan menyatakan bahwa itu adalah masalah besar bagi Amerika dan bahwa itu adalah hak Amerika, bukan hak Denmark. Oleh karena itu, jurang pemisah antara kedua sisi Atlantik sangat dalam, terlepas dari klaim mereka tentang kepatuhan terhadap ketentuan perjanjian aliansi dan Perjanjian Den Haag. Mereka bersatu dalam penentangan mereka terhadap kaum Muslim yang berupaya mengembalikan Islam ke dalam pemerintahan dan mendirikan Negara Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah (hizb-ut-tahrir.info, 9/7/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat