Kiai Shiddiq: Ateisme Pemicu Murtad Hingga Perilaku Biadab

 Kiai Shiddiq: Ateisme Pemicu Murtad Hingga Perilaku Biadab

MediaUmat – Pakar Fikih Kontemporer sekaligus Founder Institut Muamalah Indonesia, KH Muhammad Shiddiq al-Jawi, mengingatkan bahaya fatal dari paham ateisme yang tidak hanya berisiko merusak akidah hingga memicu kemurtadan, tetapi juga menghilangkan rasa takut akan dosa dan akhirat serta memicu tindakan kejam di luar batas kemanusiaan.

“Bahaya ateisme ini sangat banyak, antara lain membuat seorang Muslim murtad, membuat manusia tidak takut kepada Allah, tidak takut dosa, tidak takut neraka, hingga tega melakukan perbuatan yang sangat kejam dan biadab di luar perikemanusiaan,” ujarnya dalam sebuah kajian bertajuk Bahaya Ateisme dalam Perspektif Islam, Jumat malam (2/10/2026) di Pondok Pesantren Darul Muwahhid, Jakarta Barat.

Peringatan tegas tersebut ia sampaikan merespons fenomena pengakuan ateisme yang mulai merambah perguruan tinggi. Pada awal September 2026 lalu, seorang dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di kampus negeri kawasan Bandung menceritakan adanya sejumlah mahasiswa yang secara terang-terangan mengaku tidak percaya Tuhan.

Kondisi ini memicu sorotan terkait pergeseran fungsi mata kuliah agama menjadi sekadar formalitas akademik, sehingga mahasiswa yang secara pribadi tidak lagi beriman terpaksa tetap mengikuti perkuliahan PAI semata-mata demi mengamankan nilai IPK dan kelulusan.

Menanggapi fenomena tersebut, Kiai Shiddiq menilai kekeliruan utama pemikiran ateisme bersumber dari pandangan sempit yang mengukur keberadaan sesuatu hanya berdasarkan pembuktian pancaindra dan metode empiris (pendekatan ilmiah yang wajib dibuktikan lewat pengamatan atau uji fisik).

Menurutnya, kaum ateis kerap terjebak dalam skeptisisme materialis (sikap meragukan hal gaib/kerohanian karena hanya percaya pada wujud benda dan materi), sehingga keliru menyimpulkan bahwa Pencipta tidak ada hanya karena tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.

Keterbatasan Indra

Guna membantah argumen tersebut, Kiai Shiddiq menegaskan keterbatasan indra manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur ketiadaan Pencipta. Ia mencontohkan rentang pendengaran manusia yang terbatas pada 20 hingga 20.000 hertz, serta keberadaan mikroorganisme dan matahari yang tetap ada meski tidak dapat dilihat oleh orang buta sejak lahir.

“Atas dasar keterbatasan itulah, Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Allah memang tidak dapat dilihat di dunia, tetapi tidak berarti Allah itu tidak ada, justru Allah itu ada dan dapat melihat semuanya,” jelas Kiai Shiddiq merujuk pada firman Allah SWT dalam surah al-An’am ayat 103: “Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat menjangkau segala penglihatan itu.”

Lebih lanjut, ia menerangkan pembuktian keberadaan Allah SWT (al-iman bi wujudillah) harus menggunakan dalil aqli, yaitu melalui perenungan akal terhadap keteraturan alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam surah Ali ‘Imran ayat 190 tentang tanda-tanda kebesaran Allah pada penciptaan langit, bumi, dan pergantian siang serta malam bagi orang-orang yang berakal.

Untuk mempermudah logika penalaran tersebut, ia mencontohkan analogi robot humanoid. Jika mesin rumit tersebut pasti memiliki pembuatnya, maka manusia dan alam semesta yang jauh lebih kompleks tentu memiliki Pencipta Yang Maha Kuasa.

“Iman kepada adanya Allah dalilnya adalah dalil aqli, yaitu alam semesta yang dapat kita indra sebagai bukti adanya Allah di balik segala keteraturan di alam semesta ini,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *