MediaUmat – Di tengah upaya serius ulama menyerukan dan mengarahkan perjuangan umat untuk menegakkan syariat Islam secara kaffah, Ulama KH Rokhmat S. Labib mengingatkan, agar umat tidak lengah terhadap fenomena berbahaya: munculnya figur-figur agama yang lebih takut kepada penguasa daripada kepada Allah SWT.
“Problem terbesar hari ini adalah ketika orang yang mengaku membawa agama justru lebih takut kepada penguasa daripada takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala,” tegas Kiai Labib dalam Cahaya Ramadhan bertema Bongkar Rahasia QS Ali ‘Imran Ayat 102: Standar Takwa yang Jarang Diketahui, Selasa (2/3/2026) di kanal YouTube 1 Ummah.
Menurutnya, dominasi rasa takut kepada manusia melahirkan kompromi dalam dakwah. Ayat-ayat yang berpotensi mengoreksi kekuasaan mulai dihindari, sementara yang dianggap “aman” justru diprioritaskan. Di titik inilah keberanian dakwah melemah dan arah perjuangan syariat menjadi kabur di tengah umat.
“Kalau rasa takutnya kepada manusia, maka yang terjadi adalah kompromi. Ayat-ayat disampaikan yang aman saja, yang tidak menyinggung kekuasaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebenaran tidak boleh dipilah berdasarkan risiko politik. Ketika ayat-ayat yang mengandung koreksi terhadap kezaliman disisihkan, syariat perlahan direduksi menjadi ajaran ritual yang kehilangan daya koreksi terhadap sistem yang menyimpang.
“Allah memerintahkan untuk menyampaikan kebenaran walau pahit. Bukan memilih mana yang aman bagi diri kita,” katanya.
Kiai Labib mengingatkan, ulama adalah waratsatul anbiya (pewaris para nabi) yang menyampaikan seluruh risalah tanpa takut kepada manusia. Jika rasa takut kepada penguasa lebih dominan, amanah kenabian terancam bergeser dari penyampai kebenaran menjadi sekadar penyesuai keadaan.
“Ulama itu waratsatul anbiya. Kalau nabi menyampaikan seluruh risalah tanpa takut kepada manusia, maka ulama pun harus seperti itu,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai ketakutan kepada penguasa mencerminkan lemahnya orientasi akhirat. Ancaman kehilangan jabatan dan akses kekuasaan terasa lebih nyata daripada ancaman hisab Allah SWT, padahal kekuasaan bersifat sementara, sementara pertanggungjawaban di akhirat bersifat kekal.
“Yang seharusnya kita takuti itu hisab Allah, bukan tekanan manusia. Kekuasaan itu sementara, tapi pertanggungjawaban di akhirat itu selamanya,” tandasnya.
Ia pun memeringatkan, jika fenomena ini dibiarkan, umat akan kehilangan suara kebenaran yang independen. Syariat tidak lagi diperjuangkan secara utuh, melainkan disesuaikan dengan batas aman politik, sehingga kezaliman dapat terus berjalan tanpa koreksi yang tegas.
“Kalau takutnya hanya kepada Allah, maka dia akan berani menyampaikan seluruh kebenaran. Tapi kalau takutnya kepada penguasa, maka kebenaran itu akan disembunyikan,” jelasnya.
“Seorang alim tidak boleh lebih takut kepada makhluk daripada kepada Al-Khaliq,” tutupnya tegas.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat