MediaUmat – Ulama KH Rokhmat S. Labib menjelaskan takwa dalam QS Ali ‘Imran: 102 bukanlah takwa biasa, melainkan takwa dengan kualitas tertinggi: kokoh, stabil dan tidak berubah oleh situasi apa pun.
“Ketakwaan yang sebenar-benar itulah ketakwaan yang kokoh, ketakwaan yang tidak berubah-ubah, ketakwaan yang stabil,” tegasnya dalam Cahaya Ramadhan bertema Bongkar Rahasia QS Ali ‘Imran Ayat 102: Standar Takwa yang Jarang Diketahui yang disiarkan kanal YouTube 1 Ummah, Selasa (2/3/2026).
Menurutnya, frasa haqqa tuqatih menunjukkan takwa harus kuat dan tidak mudah hilang meski diterpa tekanan, godaan maupun ancaman.
“Takwa yang kuat, kokoh, tidak mudah goyah, tidak mudah hilang. Itulah haqqa tuqatih,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seruan “Ya ayyuhalladzina amanu” dalam ayat tersebut bukan sekadar panggilan biasa, melainkan panggilan kehormatan dari Allah kepada orang beriman agar meresponsnya dengan sungguh-sungguh.
“Sebutan amanu itu sebenarnya pujian kepada mereka yang memiliki kedudukan sebagai orang beriman… dimaksudkan agar mereka segera merespons dengan baik seruan itu,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menegaskan, takwa bukan sekadar rasa takut yang abstrak, melainkan ketaatan total: menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.
“Rasa takut itu menjadikan dia menjalankan semua yang diperintah Allah dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.
Standar takwa ini tampak nyata ketika seorang Muslim tetap menjalankan perintah Allah meski terasa berat dan pahit. Justru pada titik itulah kualitas takwa diuji.
“Betapapun beratnya perintah itu… perintah yang berat itu dikerjakan. Tidak ada keraguan, tidak berubah meskipun berat, meskipun sulit sekalipun itu pahit,” tegasnya.
Takwa yang kokoh, lanjutnya, melahirkan keberanian ideologis. Orang yang benar-benar bertakwa tidak tunduk pada ancaman manusia karena rasa takutnya hanya tertuju kepada Allah SWT.
“Kenapa orang berani berdakwah, berani ditangkap, berani mendapat risiko apa saja? Karena dia lebih takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Semakin tinggi takwa seseorang, semakin ringan ia menghadapi risiko, termasuk ancaman kematian.
“Ketakwaan yang benar-benar dan sungguh-sungguh itu menciptakan ketakutan kita kepada Allah semakin tinggi… bahkan ancaman kematian sekalipun itu menjadi mudah, ringan dan berani untuk dihadapi,” katanya.
Namun ia meluruskan, haqqa tuqatih tidak berarti melampaui batas kemampuan. Standar itu tetap berada dalam koridor istitha’ah yang riil, bukan alasan psikologis untuk menghindari kewajiban.
“Haqqa tuqatih itu tetap dalam koridor istitha’ah atau kemampuan… batasannya adalah masta’tum, sesuai kapasitas atau kemampuan kalian,” tandasnya.
Karena kematian bisa datang kapan saja, takwa tidak boleh bersifat musiman. Harus dijaga setiap saat hingga akhir hayat.
“Kita tidak tahu kapan kematian terjadi, maka kita harus menjaga ketaatan dan ketakwaan pada Allah itu setiap waktu. Enggak boleh lengah sedikit pun,” tegasnya.
Ia mengingatkan, kerugian terbesar manusia adalah ketika mati dalam keadaan berpaling dari Islam.
“Kerugian paling besar manusia adalah ketika dia mati dalam keadaan maksiat apalagi mati dalam keadaan kafir,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat