Ketegangan di Timteng Tetap Tinggi, Dunia Islam Tak Boleh Bergantung AS
MediaUmat – Pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir yang mengatakan ‘Amerika Serikat (AS) sangat naif jika percaya Iran akan meninggalkan program nuklirnya’ mengindikasikan ketegangan di Timur Tengah akan tetap tinggi, dan dunia Islam tak boleh bergantung pada AS.
“Sikap keras Israel mengindikasikan bahwa ketegangan di Timur Tengah akan tetap tinggi. Penguasa dunia Islam tidak boleh bergantung pada kekuatan global (seperti AS),” ujar Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana kepada media-umat.com, Ahad (28/6/2026).
Menurut Budi, sikap Menteri Israel Menunjukkan beberapa hal. Pertama, ketidakpercayaan yang mendalam (deep-seated distrust) terhadap Iran. Budi melihat Israel secara konsisten memandang program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial. Sikap ini menunjukkan bahwa dari sudut pandang koridor keamanan Israel, jalur diplomasi Barat walaupun dilakukan oleh AS, dinilai tidak akan pernah cukup kuat untuk menahan ambisi nuklir Teheran.
Kedua, strategi tekanan maksimum (maximum pressure). Budi mengatakan, dengan melabeli sekutu terdekatnya, AS, sebagai pihak yang naif, Israel sedang berusaha menekan komunitas internasional agar tidak melunakkan sanksi atau mempermudah kesepakatan diplomatik dengan Iran. Israel mendorong pendekatan yang lebih agresif dan konfrontatif.
Ketiga, pernyataan kedaulatan tindakan. Budi menyebut, sikap ini mengirimkan sinyal kuat bahwa Israel siap bertindak sendiri secara militer atau intelijen demi keamanannya, tanpa merasa terikat oleh kesepakatan diplomatik yang dibuat oleh negara-negara Barat dengan Iran.
Yang Harus Dilakukan Dunia Islam
Menghadapi situasi seperti ini, Budi mengingatkan, para penguasa dunia Islam (khususnya Lebanon dan negara-negara Timur Tengah) semestinya memahami bahwa akar masalah dari persoalan ini adalah akibat lemahnya posisioning mereka di hadapan Israel dan negara adidaya, AS. Sehingga untuk itu, penting melepaskan diri dari cengkraman mereka, menguatkan kapabilitas negaranya, sehingga bisa berhadapan vis a vis dengan mereka untuk membela kepentingan dunia Islam.
Budi memandang, negara-negara Timur Tengah harus memanfaatkan kekayaan sumber daya mereka untuk membangun ketahanan bersama, alih-alih menghabiskan anggaran untuk perlombaan senjata yang destruktif. Bagi dunia Islam dan Lebanon, pilihan terbaik bukanlah memihak dalam konfrontasi, melainkan memperkuat persatuan dan menjaga stabilitas internal agar tidak menjadi korban dari benturan kepentingan kekuatan-kekuatan besar.
Potensi Dunia Islam
Budi menilai, potensi dunia Islam untuk menghadapi atau mengimbangi posisi Israel di panggung geopolitik sebenarnya sangat besar, baik dari segi demografi, ekonomi, maupun posisi strategis.
Namun, efektivitas dari potensi ini sangat bergantung pada bagaimana dinamika politik dan persatuan internal di antara negara-negara tersebut dikelola.
Pertama, potensi geopolitik dan ekonomi. Budi melihat, dunia Islam memiliki kendali atas jalur perdagangan global. Negara-negara Muslim menguasai titik-titik maritim paling strategis di dunia, seperti Terusan Suez (Mesir), Selat Hormuz (pintu masuk minyak Teluk Persia), dan Selat Bab-el-Mandeb (akses ke Laut Merah). Gangguan atau kendali ketat di jalur-jalur ini memiliki dampak langsung pada stabilitas ekonomi global dan pasokan logistik ke berbagai negara, termasuk sekutu-sekutu Israel.
Selanjutnya, Budi juga mengatakan, dunia Islam memiliki kekuatan energi dan finansial. Blok negara-negara Arab dan Muslim di Timur Tengah memegang porsi signifikan dari cadangan minyak dan gas bumi dunia.
Kedua, potensi militer dan demografi. Budi membeberkan, beberapa negara Muslim memiliki kekuatan militer yang sangat besar dan modern, seperti Turki, Iran (dengan teknologi drone dan rudal balistik canggih), serta Mesir dan Pakistan (satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir).
Selain itu, sebut Budi, secara demografis dunia Islam memiliki populasi yang sangat besar dengan mayoritas usia muda. Ini adalah modal sosial dan ekonomi yang masif dalam jangka panjang jika dikelola dengan pendidikan dan industri yang tepat.
Namun Budi menyayangkan, meskipun potensinya di atas kertas sangat luar biasa, dalam realitas geopolitik saat ini, kekuatan tersebut jarang bisa terkonsolidasi menjadi satu front yang padu.
Menurut Budi, ada beberapa faktor krusial yang menyebabkannya. Pertama, dunia Islam tidak berada di bawah satu komando atau visi yang sama.
Ia melihat, ada persaingan pengaruh yang tajam di kawasan, seperti rivalitas historis antara Poros Arab Teluk dan Poros Iran. Konflik internal di negara-negara seperti Suriah, Yaman, dan Libya juga melemahkan fokus regional tersebut.
Kedua, kebergantungan ekonomi dan keamanan pada Barat. Ia mengungkapkan, banyak negara Muslim strategis yang sistem keamanan atau ekonominya terikat erat dengan Amerika Serikat dan sekutu Baratnya. Hal ini membuat negara-negara tersebut cenderung memilih jalur diplomasi yang hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas domestik mereka sendiri.
Ketiga, terjadi pergeseran diplomasi (normalisasi hubungan). Budi menyebut, melalui inisiatif seperti Abraham Accords, beberapa negara Arab telah memilih jalur normalisasi hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel. Pendekatan mereka bergeser dari konfrontasi militer menjadi kerja sama regional, dengan harapan bisa meredam konflik melalui jalur dialog langsung.
“Jadi, sebenarnya potensi dunia Islam secara kolektif sangat masif dan mampu menjadi kekuatan penyeimbang global. Namun, potensi ini saat ini lebih banyak terserap dalam bentuk daya tawar diplomasi dan ekonomi di panggung internasional, ketimbang konfrontasi militer langsung, akibat adanya perbedaan kepentingan politik domestik di masing-masing negara,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat