Jangan karena Urusan Politik, Faktor Utamanya Disembunyikan!

MediaUmat Merespons kecelakaan kereta api di stasiun Bekasi Timur, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi mengingatkan untuk tidak menyembunyikan faktor utama kecelakaan tersebut, hanya gara-gara urusan politik.

“Jangan gara-gara urusan politik, faktor utamanya disembunyikan,” kritiknya dalam Sorotan Dunia Islam, Rabu (29/4/2026) di Dakta FM.

Karena, menurut Farid, kecelakaan ini terkait dengan nyawa. Tidak ada urusannya dengan pencitraan politik.

“Bagi seorang pemimpin, siapa pun yang berkuasa, nyawa rakyat itu lebih-lebih utama dibanding dengan pencitraan politik,” tandasnya.

Tegas Farid, jangan menutupi kesalahan, khawatir dianggap melakukan kelalaian, dan sebagainya.

Sebab, lanjut Farid, sering kali harga nyawa itu lebih murah dari pada kepentingan politik.

“Kalau terkait dengan nyawa, harusnya tidak memperhatikan harga. Kira-kira gitu. Negara tidak memperhitungkan berapa pun biayanya kalau terkait dengan nyawa,” bebernya.

Nah, papar Farid, hal ini yang perlu diinvestigasi secara menyeluruh. Kemudian, pihak-pihak yang bertanggung jawab seharusnya meneliti dengan objektif, serius, sungguh-sungguh, jujur, jangan ditutup-tutupi. Jangan lagi dalam pencitraan poltik.

“Kalau memang ada kegagalan, ada kesalahan dari sistem, kesalahan dari penanggung jawab, ya diungkap saja dan diganti dan diperbaiki,” sarannya.

Kesalahan Manusia

Karena, anggapan Farid, dalam setiap bencana itu merupakan takdir Allah tapi juga ada karena kesalahan manusia.

“Dalam hal ini, di samping bersabar tentu harus diselesaikan penyebab-penyebab yang kemungkinan itu berasal dari manusia sendiri. Sebagai contoh misalkan dalam beberapa kecelakaan kereta api itu bisa karena faktor teknis seperti kegagalan sistem sinyal, ada roda atau rem yang bermasalah rusak dan sebagainya bisa juga karena faktor human error — seperti lalai atau salah membaca sinyal atau ada faktor sistem manajemen. Di mana perawatan atau maintenance-nya tidak optimal, menjalankan SOP atau standar keselamatan tidak secara disiplin ditegakkan,” ungkapnya.

Sehingga, harapan Farid, kasus ini harus diselidiki atau diinvestigasi lebih lanjut.

“Faktor manusia atau teknis tadi dan ini harus segera dituntaskan. Karena kalau kita lihat ini masalah nyawa manusia bukan main-main,” ujarnya.

Solusi yang Ditawarkan

Sayangnya, ungkap Farid, solusi yang ditawarkan adalah pindah posisi wanita dan laki-laki di dalam gerbong. Padahal, laki-laki ataupun perempuan posisinya sama, semuanya itu harus dijaga.

Sehingga, tegas Farid, yang terpenting itu bukan posisi gerbongnya dan perspektif itu terlampau tidak mendasar.

“Kalau menurut saya, kalaupun posisi laki-laki di depan atau di belakang paling ujung, laki-laki juga kan adalah nyawa, di situ juga biasanya ada wanita juga bahkan kadang-kadang membawa anak,” ucapnya.

Harusnya, sambungnya kembali, yang paling lebih penting untuk dipikirkan itu adalah keamanan sistem secara menyeluruh harus diungkap.

“Yang perlu diganti pejabatnya, ya ganti. Yang tidak becus, ya ganti. Yang memang dia tidak ahli ganti. Hang komesaris-komisaris dari perusahaan-perusahaan atau BUMN-BUMN yang enggak ada kepeduliannya, ganti,” tegasnya.

Sekali lagi, ia ingatkan, semua ini harus dievaluasi bersama secara total.

“Kalaupun evaluasi solusi-solusi itu sudah secara serius dilakukan tapi kecelakaan itu sangat mungkin terjadi, di situ kita berserah diri kepada Allah SWT tapi kalau itu karena faktor manusia yang lalai atau disengaja atau faktor ketidakcakapan menurut ketidaklayakan seorang yang bertanggung jawab tidak ada kata lain kecuali itu diganti dan diperbaiki,” pungkasnya.[] Novita Ratnasari

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: