Iran Berpotensi Miliki Senjata Nuklir, Peneliti: Kuncinya Ada pada Niat

 Iran Berpotensi Miliki Senjata Nuklir, Peneliti: Kuncinya Ada pada Niat

MediaUmat – Secara teknis, Iran dinilai berpeluang besar merakit senjata nuklir sendiri jika memiliki niat yang sungguh-sungguh.

“Kalau Iran sungguh-sungguh berniat, sebenarnya bisa saja mereka merakit senjata nuklir sendiri,” ujar Mahasiswa S3 Nuclear Engineering, R. Andika Putra Dwijayanto, kepada media-umat.com, Selasa (15/9/2026).

Pernyataan ini merespons penegasan Jubir Parlemen Iran, Abbas Goudarzi, terkait rencana revisi doktrin nuklir dan keanggotaan NPT (Perjanjian Nonproliferasi Nuklir). Sikap ini dipicu kebuntuan diplomasi pasca-aksi saling serang militer Iran dan AS di Teluk.

Menanggapi rencana tersebut, Andika memandang keputusan Iran untuk benar-benar mengembangkan senjata nuklir amat bergantung pada langkah politis dan doktrinal keagamaan mereka yang kompleks.

“Secara politis, mereka harus menghapus fatwa haram senjata nuklir yang dikeluarkan Ayatullah Khamenei dan keluar dari NPT serta IAEA (Badan Energi Atom Internasional). Belum ada indikasi jelas apakah mereka akan melakukannya atau tidak,” tambahnya.

(Catatan Redaksi: Fatwa haram pengadaan, pengembangan, dan penggunaan senjata nuklir secara lisan ditegaskan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, sejak pertengahan dekade 1990-an dan secara resmi disampaikan kepada IAEA pada Oktober 2003, sebelum kembali ditegaskan dalam deklarasi tertulis pada 2011.)

Namun terlepas dari variabel politis tersebut, dari segi teknologi, tingkat pengayaan uranium reguler Iran saat ini berada di kisaran 60%—dan sempat terdeteksi mendekati 84% pada beberapa temuan. Andika melihat kapasitas tersebut sejatinya melampaui beberapa negara pemilik nuklir untuk mencapai standar kemurnian senjata militer (weapons-grade).

“Selama Iran bisa memperkaya uranium sampai 93%, tidak terlampau sulit untuk membuat senjata nuklir berbasis uranium, seperti yang diterapkan di Little Boy,” jelasnya, seraya mencontohkan Pakistan dan Korea Utara yang terbukti berhasil merakitnya meski kemampuan teknologi awalnya berada di bawah Iran.

Penggentar dan Urgensi Reunifikasi Dunia Islam

Menurut Andika, nuklir dapat menjadi instrumen deterrence (penggentar) menghadapi Barat. Namun, senjata semata tak cukup tanpa unifikasi (penyatuan kekuatan) politik umat, sebab daya gertak tersebut tak akan efektif menundukkan hegemoni Barat selama dunia Islam masih terpecah dalam batas nasionalisme.

“Selama dunia Islam masih terpecah dengan kepentingan masing-masing, bisa dikatakan mustahil bisa menghentikan masalah ancam-mengancam dengan senjata nuklir ini, karena dunia Barat tetap memiliki kekuatan lebih,” tegasnya.

Ia pun meyakini reunifikasi (penyatuan kembali) dunia Islam secara ideologis dan politik menjadi kunci utama pelucutan senjata pemusnah massal secara global.

“Beda kasusnya jika dunia Islam melakukan unifikasi, maka potensi umat Islam untuk mengancam balik hegemoni Barat bisa dijamin. Bahkan reunifikasi umat Islam bisa menekan seluruh dunia untuk melucuti seluruh senjata nuklir yang ada,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *