Inkonsisten Trump di NATO: Menghukum Berlin dan Memberi Penghargaan kepada Warsawa dengan Mengorbankan Strategi

 Inkonsisten Trump di NATO: Menghukum Berlin dan Memberi Penghargaan kepada Warsawa dengan Mengorbankan Strategi

Presiden AS Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mengirimkan tambahan 5.000 tentara ke Polandia, hanya beberapa hari setelah Pentagon mengumumkan penangguhan pengerahan brigade tempur yang sebelumnya direncanakan ke negara tersebut (arabic.rt.com, 22/5/2026).

**** **** ****

Trump berpendapat bahwa Eropa secara historis terlalu bergantung pada perlindungan AS tanpa meningkatkan pengeluaran NATO-nya—yaitu, tanpa menaikkan kontribusi keuangannya sebagai imbalan atas perlindungan dan dukungan substansial yang diberikan AS kepada benua Eropa secara umum dan Jerman secara khusus. Jerman, katanya, memiliki ekonomi terkuat di Eropa, namun pengeluaran pertahanannya sebanding dengan negara-negara seperti Spanyol dan Polandia. Hal ini telah menyebabkan kebijakan Trump “tidak ada makan siang gratis”, sehingga siapa pun yang mencari perlindungan harus membayarnya dengan membeli senjata AS dan bergantung pada keahlian AS dalam pelatihan, perencanaan, manuver, dan semua aspek lain dari pengoperasian senjata tersebut.

Namun logika ini jelas bertentangan dengan keputusannya baru-baru ini untuk mengirim 5.000 tentara AS ke Polandia, negara anggota NATO dan yang paling dekat dengan perbatasan Rusia. Apakah inkonsisten dalam perilaku Trump ini merupakan bentuk hukuman bagi Jerman, yang Presidennya Frank-Walter Steinmeier mengkritik perang AS terhadap Iran, menggambarkannya sebagai “kesalahan politik yang dahsyat dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional”? Hal ini telah menciptakan keretakan yang dalam dalam hubungan antara Berlin dan Washington, dan tampaknya menjadi alasan utama yang mendorong Trump untuk menarik 5.000 tentara dari Jerman dan memberi penghargaan kepada Polandia dengan jumlah yang sama, meskipun kontribusi Polandia terhadap aliansi tersebut kurang dari seperempat kontribusi Jerman, dan ekonominya lebih bergantung pada bantuan daripada produksi dalam negeri.

Di sinilah letak perilaku “Trumpisme” yang inkonsisten dan tidak menentu yang telah menjadi ciri khas tindakan presiden AS sejak keterlibatannya dalam perang dengan Iran, diikuti oleh kunjungannya ke China, di mana kepribadiannya yang goyah dan pernyataan serta sikapnya yang tidak seimbang terlihat jelas. Perilaku yang tidak menentu inilah yang mendorong Kongres AS untuk menetapkan batas waktu 60 hari (yang telah berlalu) sebagai batas maksimal untuk mengakhiri operasi militernya dengan cara yang dianggapnya tepat, dengan sepenuhnya melarang Trump untuk melakukan petualangan militer baru tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Kongres dan mendapatkan persetujuannya.

AS di bawah Trump dan pemerintahannya, dilanda megalomania dan arogansi, yang membutakannya terhadap laporan intelijen AS yang memperingatkan bahaya dan kesia-siaan perang ini serta mengkonfirmasi ketidakakuratan laporan mengenai program nuklir Iran. Narsisisme ini juga membutakan Trump dan Menteri Pertahanannya terhadap nasihat para pemimpin militer dan jenderal yang sangat berpengalaman yang telah membahas kesia-siaan perang di Timur Tengah dan yang telah mengembangkan 16 skenario perang melawan Iran, yang semuanya terbukti gagal total bagi ekonomi dan masa depan AS. Namun, bukannya mendengarkan mereka, Trump malah mengabaikan mereka dan mengikuti jalannya sendiri.

Hasil yang harus dihadapi AS saat ini adalah kenyataan pahit: utang nasional meningkat sebesar 2 triliun dolar AS setiap tahunnya, dan pemberontakan yang semakin besar terhadap kebijakan-kebijakannya, terutama dari sekutu-sekutu yang menolak mendukungnya dalam perang melawan Iran. Bahkan negara-negara yang dulunya takut pada AS dan mempertimbangkan dengan cermat sanksi-sanksinya, seperti China dan Rusia, kini mereka melihat hancurnya prestise AS di mata mereka, bahkan sekutu-sekutu tradisional Washington kini beralih ke musuh-musuh ini untuk membangun jembatan kepercayaan dan menjalin hubungan baru yang menghilangkan keraguan dan kecurigaan. Fenomena ini digambarkan dalam firman Allah SWT:

﴿يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ﴾

“Mereka menghancurkan rumah-rumahnya dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka, ambillah pelajaran (dari kejadian itu), wahai orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (TQS. Al-Hasyr [59] : 2). [] Salim Abu Sabitan

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 26/5/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *