Harkitnas Harus Jadi Momentum Refleksi, Bukan Sekadar Seremoni

MediaUmat – Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menegaskan, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya dimaknai sebagai momentum refleksi mendalam bagi seluruh elemen bangsa, bukan sekadar seremoni tahunan yang rutin diperingati tanpa makna substansial.

“Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni tahunan,” tegasnya kepasa media-umat.com, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengakui kelemahan dan memperbaikinya, bukan bangsa yang hanya sibuk merayakan keberhasilan sambil mengabaikan berbagai persoalan yang masih membelit masyarakat.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengakui kelemahan dan memperbaikinya, bukan bangsa yang hanya sibuk merayakan keberhasilan sambil mengabaikan berbagai persoalan yang masih ada,” ujarnya.

Menurutnya, secara substansial kebangkitan nasional tidak dapat diukur hanya dari pembangunan fisik, banyaknya proyek strategis, atau tingginya angka investasi, melainkan harus tercermin pada meningkatnya kesejahteraan rakyat serta kualitas layanan publik secara menyeluruh.

“Secara substansial, kebangkitan nasional tidak dapat diukur hanya dari pembangunan fisik, banyaknya proyek strategis, atau tingginya angka investasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebangkitan sejati harus terlihat dari peningkatan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, keadilan hukum, serta perlindungan terhadap hak-hak warga negara.

“Kebangkitan yang sesungguhnya harus tercermin pada meningkatnya kesejahteraan rakyat, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, keadilan hukum, serta perlindungan terhadap hak-hak warga negara,” lanjutnya.

Ahmad juga mengingatkan, tidak adil jika seluruh capaian pemerintah diabaikan, namun di sisi lain, kritik masyarakat tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk sikap anti-pemerintah.

“Memang tidak adil jika seluruh capaian pemerintah diabaikan begitu saja. Namun demikian, tidak bijak pula jika berbagai kritik dan kegelisahan masyarakat dianggap sebagai sikap anti-pemerintah,” katanya.

Ia menilai kritik yang jujur justru merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa dan menjadi bagian penting dalam proses pembangunan yang sehat. Salah satu indikator penting kemajuan bangsa adalah kualitas berbangsa dan bernegara, termasuk kemampuan negara dalam mengelola kritik secara konstruktif.

“Negara yang maju bukan negara yang bebas dari kritik, melainkan negara yang mampu mengelola kritik secara konstruktif,” ujarnya.

Dalam perspektif Islam, lanjutnya, kebangkitan suatu bangsa tidak semata diukur dari kemajuan ekonomi atau pembangunan fisik, melainkan perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” kutipnya merujuk QS ar-Ra’d ayat 11.

Ia menegaskan, ayat tersebut menunjukkan kebangkitan membutuhkan perubahan mendasar dalam cara berpikir, sistem kehidupan, kepemimpinan, dan budaya masyarakat.

“Kebangkitan bukan sekadar slogan, melainkan proses perbaikan yang nyata,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: