MediaUmat – Pemerintahan Iran dinilai tidak bisa mencukupkan diri hanya pada pengembangan program rudal balistik jika ingin melumpuhkan ancaman militer serta mengalahkan hegemoni Amerika Serikat dan sekutunya.
“Iran tentu tidak bisa mencukupkan diri pada pengembangan rudal balistik saja,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi kepada media-umat.com, Kamis (25/6/2026).
Sebab, menurutnya, kemampuan dengan menggunakan rudal ini baru sebatas kemampuan perlawanan, atau sekadar memberikan serangan balik terhadap musuh. Belum sampai tingkat menghancurkan musuh apalagi mengalahkan musuh.
Dikabarkan sebelumnya, dalam kunjungan resmi ke Pakistan yang menjadi negosiator Iran dan Amerika Serikat, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa program rudal balistik Iran tidak dapat dinegosiasikan. Pezeshkian menyebut, tanpa kepemilikan rudal balistik sebagai daya tangkal (deterrence strategy), Israel dan AS akan menghancurkan Iran seperti Gaza tanpa ampun.
Menanggapi urgensi pemanfaatan rudal tersebut, Farid mengakui rudal balistik menjadi tulang punggung pertahanan asimetris Iran akibat keterbatasan armada jet tempur mereka pasca-embargo 1979. Karakteristik geografis Iran yang bergunung-gunung serta taktik saturation attack (serangan masif) menggunakan rudal murah, terbukti efektif merepotkan sistem pertahanan udara lawan.
Kekuatan Ideologi dan Kemandirian Total
Kendati demikian, ia menekankan, untuk mencapai tingkat daya rusak yang dapat menggentarkan musuh secara total, dunia Islam termasuk Iran, memerlukan kekuatan yang jauh lebih besar. Hal ini selaras dengan perintah Allah SWT dalam QS Al-Anfal: 60 mengenai kewajiban mempersiapkan kekuatan yang mampu menggentarkan musuh-musuh Allah.
“Maka yang harus dikembangkan kaum Muslimin itu teknologi yang memiliki daya rusak yang lebih dahsyat, dalam hal ini teknologi nuklir, misalnya. Inilah yang membuat umat Islam menjadi kuat, salah satunya,” tegas Farid.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, kekuatan sejati suatu negara tidak boleh hanya bersandar pada aspek militer konvensional, melainkan pada aspek ideologis yang melahirkan kemandirian total di berbagai sektor kehidupan.
“Yang paling mendasar adalah kekuatan ideologi. Dan inilah yang sesungguhnya harus dipakai oleh umat Islam yaitu akidah Islam sebagai ideologi negara. Karena akidah Islam inilah yang nanti akan melahirkan kepemimpinan yang kuat,” urainya.
Menurut Farid, ideologi berdasarkan akidah Islam tersebut nantinya akan mewujud dalam kepemimpinan politik global yang menyatukan kekuatan militer umat, membangun kemandirian industri pertahanan, serta melepaskan diri dari ketergantungan ekonomi dan politik luar negeri terhadap blok adidaya Barat, khususnya Amerika Serikat.
“Dan itu semua hanya bisa dilakukan oleh umat Islam kalau ada negara yang didasarkan pada akidah Islam, yang kemudian menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Di situlah relevansi kenapa umat Islam membutuhkan negara Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat